Anak Saya Tidak Mengenal Nama Channel TV
Suatu hari saya tersadar pada hal kecil yang terasa besar:
anak saya tidak tahu nama channel televisi.
Bukan tidak hafal—memang tidak pernah merasa perlu tahu.
Tidak ada RCTI, SCTV, Indosiar, atau TVRI dalam kamus kesehariannya.
Yang ia kenal adalah ikon, thumbnail, dan tombol play.
Awalnya saya tersenyum. Lalu diam.
Oh… ternyata dunia sudah benar-benar bergeser.
Di masa saya kecil, televisi adalah gerbang tunggal.
Jam tayang menentukan ritme hidup:
kartun pagi, film sore, sinetron malam.
Kami menunggu.
Kami menyesuaikan diri.
Kami menerima apa yang disajikan.
Anak saya tidak menunggu.
Ia memilih.
Bukan karena ia lebih pintar,
tapi karena dunianya menyediakan itu.
Ia tidak peduli siapa yang menyiarkan,
ia peduli apa yang ingin ia tonton.
Konten lebih penting daripada kanal.
Cerita lebih penting daripada jadwal.
Saya sempat bertanya dalam hati:
ini kemajuan atau kehilangan?
Karena di balik kebebasan memilih, ada tantangan yang tidak kecil.
Televisi dulu punya batas—jam tayang, sensor, jeda iklan.
Media hari ini nyaris tanpa pagar.
Satu video bisa ramah, video berikutnya bisa absurd, bahkan berbahaya.
Dulu, orang tua mengawasi satu layar.
Sekarang, kami mengawasi sebuah semesta.
Tantangannya bukan lagi “apa yang ditonton”,
melainkan bagaimana anak memaknai apa yang ia tonton.
Saya tidak ingin terjebak romantisme masa lalu:
seolah tontonan zaman saya pasti lebih sehat.
Faktanya, banyak juga kekerasan, stereotip, dan ketakutan yang dulu kami telan mentah-mentah.
Bedanya, kami tidak punya pilihan lain.
Anak saya punya pilihan.
Dan di situlah peran saya berubah.
Bukan sebagai penjaga gerbang yang galak,
tapi sebagai teman duduk.
Saya ingin tahu apa yang ia tonton,
bukan hanya melarang apa yang tidak boleh.
Saya ingin ia belajar bertanya,
bukan hanya menggeser layar.
Karena dunia media tidak akan melambat hanya karena saya rindu televisi tabung.
Dan anak saya tidak salah karena lahir di zaman yang berbeda.
Ia tidak kenal nama channel TV—
dan mungkin memang tidak perlu.
Yang lebih penting:
ia mengenal nilai, batas, dan rasa cukup.
Jika itu tercapai,
entah lewat TV, tablet, atau layar apa pun di masa depan,
saya rasa…
saya tidak kehilangan apa-apa.
Justru saya sedang belajar lagi:
bagaimana menjadi orang tua di dunia yang tidak lagi punya tombol “pindah channel”,
hanya tombol pilih,
dan tanggung jawab untuk mendampingi pilihan itu.
0 komentar