Daster, Wajan, dan Antidepresan Gratis di Jam Masak Pagi
Belakangan saya baru sadar, di live daster yang absurd itu, ada fungsi lain yang sama sekali tidak saya rencanakan. Seorang penonton anonim menulis santai:
“Bang, jangan berhenti spill atau ngomong random aja kaya biasa. Saya lagi masak, temenin.”
Saya berhenti sejenak.
Masak.
Daster.
Live.
Secara logika, ini tidak ajeg sama sekali. Tidak ada korelasi sebab-akibat yang rapi. Saya tidak sedang demo masak. Tidak sedang bahas resep. Tidak sedang pegang spatula. Saya hanya… ada. Pakai daster. Ngomong ngalor-ngidul.
Tapi justru di situ saya tersentil.
Ternyata, live saya berfungsi seperti pola-pola pelarian lain yang selama ini saya kenal:
musik random, ngobrol dengan orang yang dianggap “aneh”, bercakap tanpa tujuan besar.
Dan jujur saja—ini sama absurdnya.
Saya dulu lari ke musik.
Ada orang lain lari ke rokok.
Ada yang lari ke tawuran.
Ada yang lari ke refleksi sampai capek sendiri.
Dan sekarang, ada yang lari ke live daster… sambil masak.
Aneh?
Iya.
Manusiawi?
Banget.
Saya membayangkan: seseorang di dapur, pagi-pagi, kepala sudah penuh. Tetap harus masak. Tetap harus jalan. Tidak ada waktu untuk terapi, tidak ada energi untuk mikir filosofis. Yang dibutuhkan cuma satu hal sederhana: suara manusia lain yang tidak menghakimi dan tidak menuntut apa-apa.
Bukan solusi.
Bukan nasihat.
Bukan motivasi.
Cuma ditemani.
Dan di titik itu saya sadar:
kadang antidepresan tidak berbentuk obat, tapi kehadiran yang tidak ribet.
Saya juga belajar sesuatu yang cukup menampar ego:
tidak semua hal harus langsung berujung transaksi.
Tidak apa-apa kalau dia tidak beli daster sekarang.
Tidak apa-apa kalau yang “dibeli” justru rasa ditemani.
Karena ternyata, rasa batin yang sedikit lebih ringan itu mahal harganya.
Jauh lebih mahal dari satu potong daster.
Di sisi lain, saya juga perlu meluruskan satu hal ke diri sendiri.
Ini bukan berarti saya “menyelamatkan” siapa-siapa.
Saya tidak sedang jadi pahlawan dapur nasional.
Saya hanya kebetulan hadir, dan kehadiran itu nyantol.
Dan mungkin itu cukup.
Manusia memang aneh dalam mencari pegangan.
Ada yang butuh doa panjang.
Ada yang butuh musik keras.
Ada yang cukup dengan obrolan random orang pakai daster.
Semua itu sah.
Semua itu cara bertahan.
Kesimpulan yang saya endapkan pelan ke batin sendiri begini:
Saya tidak sedang menjual daster.
Saya sedang menyediakan jeda.
Kalau jeda itu membantu seseorang mengaduk sayur tanpa merasa sendirian,
maka keanehan ini… layak diteruskan.
Dan kalau dunia terasa berat,
tidak apa-apa istirahat sebentar
di tempat yang kelihatannya tidak penting.
Kadang, dapur dan daster
lebih jujur dari seminar motivasi.
0 komentar