Humor Saya Tersesat, Lalu Menertawakan Diri Sendiri
Saya pernah sampai pada satu kesimpulan yang tidak saya rencanakan:
humor saya itu berlabirin.
Ia tidak langsung lucu.
Ia muter dulu.
Kadang reflektif.
Kadang berhenti di tikungan sambil mikir, “kok bisa ya dulu gue nerima ini?”
Lalu tiba-tiba—ploft—saya ketawa.
Dan anehnya, rasanya seperti bukan saya yang tertawa.
Contohnya sederhana, warisan kolektif bangsa yang tak pernah ditanya ulang:
jangan buang air panas ke washtafel, nanti hantu marah.
Waktu kecil, kalimat itu tidak lucu.
Ia sakral.
Ia final.
Ia tidak mengundang tanya.
Sekarang, logika dewasa saya yang sudah kebanyakan baca, mikir, dan kebanyakan ngopi, mulai iseng:
“Bentar…
jadi ada makhluk metafisik, jin mungkin,
yang secara sadar memilih tinggal di pipa washtafel.
Berbagi ruang hidup dengan lemak sabun, sisa cabe, ampas kopi,
lalu suatu hari…
tersiram air panas
dan ia marah…
belepotan…
kepanasan…
sambil mikir:
‘Ini siapa sih anjir yang mandi sore-sore?!’”
Di titik itu, saya ketawa.
Bukan ketawa cerdas.
Ketawa bingung.
Lalu refleksi kecil menyusul tanpa diundang:
“Apaan sih…”
sambil geleng kepala ke diri sendiri.
Dan di situlah saya sadar:
humor saya bukan sekadar ingin lucu.
Ia adalah produk samping dari logika yang akhirnya berani menyentuh hal-hal yang dulu ditelan mentah-mentah.
Dulu saya takut.
Sekarang saya membayangkan.
Dulu saya patuh.
Sekarang saya bertanya, lalu malah ngakak.
Saya tidak sedang merendahkan kepercayaan siapa pun.
Saya hanya menemukan jarak.
Dan di jarak itu, absurditas jadi terlihat.
Humor saya lahir bukan dari punchline, tapi dari benturan:
antara memori lama yang serius
dan kesadaran baru yang sudah tidak bisa dibohongi.
Makanya setelah ketawa, saya sering bengong sendiri.
Karena lucunya tidak murni hiburan.
Ada rasa lega.
Ada rasa: oh… gue udah sejauh ini ya.
Kesimpulannya sederhana, dan agak menertawakan diri sendiri:
saya tidak sedang mencari bahan lucu.
Saya hanya membiarkan logika saya jalan sampai mentok.
Kalau mentoknya patah—saya ketawa.
Kalau mentoknya reflektif—saya diam.
Dan kadang, dua-duanya datang barengan.
0 komentar