Blur, Sensor, dan Saya yang Terlalu Penasaran pada Selera

by - 6:00 AM

Saya sampai pada satu kesimpulan pelan-pelan: syahwat itu bukan lagi sekadar dorongan biologis, tapi sudah lama naik kelas menjadi komoditas. Ia dikemas, dipasarkan, diberi genre, lalu dijual dengan janji kepuasan—seperti mie instan, tinggal seduh, berharap kenyang.

Teman saya salah satu konsumennya yang cukup setia. Ia rajin mengoleksi video olah syahwat, terutama genre Jepang. Saya paham daya tariknya. Visual perempuan Jepang itu, dalam bayangan kami—dan mungkin jutaan kepala lain—putih, langsing, rapi, dan entah kenapa terlihat “aman” untuk ditatap. Estetis. Terlihat bersih. Bahkan sopan.

Bedanya, saya berhenti di visual.
Teman saya melangkah lebih jauh.

Masalahnya bukan di selera, tapi di kekecewaan.
Ia sering mengeluh: “Ini nggak full, ini mah semi.”

Saya mendengarkan sambil senyum tipis. Bukan karena sok suci, tapi karena ada ironi yang sulit diabaikan. Jepang—yang sering dicap liberal—ternyata justru sangat disiplin dalam urusan sensor. Organ vital di-blur. Disamarkan. Seolah industri itu berkata: silakan menonton, tapi jangan berharap segalanya dibuka mentah-mentah.

Dalam hati saya bergumam:
ternyata sopan santun Jepang tidak berhenti di antrean kereta atau membungkuk saat menyapa, tapi juga sampai ke urusan visual paling intim.

Sensor itu seperti pagar simbolik. Ia tidak menghentikan hasrat, tapi mengaturnya. Memberi jarak. Mengingatkan bahwa ini tontonan, bukan realitas.
Dan di situlah teman saya mulai frustrasi.

Ia lalu pindah ke video amateur. Katanya lebih “jujur”. Full. Tanpa sensor. Tanpa estetika. Satu sudut kamera. Cahaya seadanya. Tidak ada narasi. Tidak ada produksi rapi. Tidak ada ilusi seni.

Saya justru terdiam.

Karena di titik itu saya merasa paradoksnya telanjang:
ketika industri berusaha merapikan syahwat agar tetap berjarak, manusia justru mencarinya dalam bentuk paling mentah.
Bukan lagi keindahan yang dicari, tapi kepuasan instan.
Bukan lagi cerita, tapi bukti.

Saya tidak menghakimi teman saya. Saya malah bertanya ke diri sendiri:
apa yang sebenarnya dicari dari semua ini?
Visual? Keintiman palsu? Atau sekadar rasa “melihat tanpa batas”?

Dan mungkin di sinilah letak kritiknya—yang saya tujukan ke diri sendiri juga:
ketika syahwat dijadikan konsumsi harian, ia kehilangan daya rayunya. Yang tersisa hanya eskalasi: harus lebih nyata, lebih dekat, lebih terbuka.

Sensor ternyata bukan musuh kenikmatan.
Ia justru pengingat bahwa tidak semua hal harus ditelan bulat-bulat.
Bahwa jarak kadang membuat manusia tetap manusia.

Saya menutup renungan ini dengan satu catatan kecil di batin:
bukan Jepang yang terlalu sopan, mungkin saya—dan kita—yang terlalu lapar.

You May Also Like

0 komentar