Tuhan, Kitab Suci, dan Saya yang Menolak Dipaksa Birahi

by - 9:00 AM

Saya tahu satu hal sejak awal: syahwat bukan barang haram untuk dibicarakan. Kitab suci membahasnya. Al-Qur’an membahasnya. Al-Kitab juga membahasnya. Bahkan cukup detail—tentu dengan bahasa yang tertib, simbolik, dan tidak murahan. Setelah itu, selesai. Ia menjadi pegangan, bukan poster pornografi rohani.

Masalahnya bukan di teks.
Masalahnya selalu di cara mulut manusia membacanya.

Saya pernah duduk di sebuah kajian. Tema besarnya rumah tangga, yang katanya sakral. Lalu masuklah pembahasan seks. Dan di situlah kalimat itu jatuh ke pangkuan saya, dingin dan berat:

“Jika istri menolak ajakan suami, maka ia dikutuk malaikat sampai subuh.”

Saya diam.
Bukan karena takzim.
Tapi karena batin saya mundur satu langkah.

Saya tidak langsung sibuk membantah. Saya juga tidak pura-pura setuju. Saya hanya bertanya ke diri sendiri:
ini ajaran tentang cinta, atau instruksi kekuasaan?

Saya tidak membuka kitab rujukan penceramahnya. Bisa jadi itu ada. Bisa jadi itu potongan. Bisa jadi konteksnya panjang lalu diperas sampai tinggal ancaman. Saya tidak tahu. Tapi satu hal saya tahu betul: ketika ayat atau kalam Tuhan dipakai untuk menekan tubuh manusia, sesuatu sedang salah.

Batin saya menolak dengan halus, tapi tegas.

Seks—bahkan dalam pernikahan yang sah—bukan hak sepihak.
Ia perjumpaan.
Ia persetujuan.
Ia kesediaan dua tubuh dan dua batin untuk saling hadir.

Kalau salah satu lelah, takut, sakit, atau sekadar tidak ingin—lalu Tuhan dipanggil sebagai algojo moral—saya merasa Tuhan sedang dipaksa ikut campur dalam urusan yang mestinya penuh empati.

Saya heran, kenapa urusan paling intim harus dilegitimasi dengan ancaman kosmik?
Kenapa malaikat harus diturunkan hanya untuk memastikan ranjang tidak kosong?

Seolah-olah Tuhan begitu resah melihat satu malam tanpa seks.

Di titik itu, saya justru merasa seks sedang direduksi. Dari peristiwa kemanusiaan, menjadi kewajiban administratif. Dari cinta, menjadi utang. Dari keintiman, menjadi proyek pahala dan dosa.

Dan ini yang paling mengganggu saya:
ayat yang suci bisa berubah kasar ketika keluar dari mulut yang lapar kuasa.

Saya tidak sedang menolak agama. Saya justru ingin menyelamatkannya dari penyederhanaan. Karena iman yang sehat tidak butuh ancaman untuk mengatur hasrat. Ia butuh kedewasaan.

Saya menutup renungan ini dengan kesimpulan yang saya bisikkan ke diri sendiri:

Tuhan tidak perlu dijadikan tameng untuk memaksa seks.
Kalau cinta harus diseret-seret oleh ayat, mungkin yang kurang bukan dalil—tapi empati.

Dan mungkin, dalam urusan ranjang, yang paling dibutuhkan bukan kutukan malaikat,
melainkan kemampuan bertanya pelan:

“Kamu mau, atau tidak?”

You May Also Like

0 komentar