Tuhan Bukan Mesin ATM, Tapi Saya Sempat Lupa

by - 3:00 AM

Saya pernah memperhatikan pola yang berulang, dan jujur saja—kadang saya juga hampir tergelincir ke sana.

Seseorang membangun realitas hidupnya dengan ritual yang rapi dan panjang. Dhuha dua belas rakaat. Sholawat nariyah empat ribu empat ratus empat puluh empat kali. Surah-surah tertentu dibaca dengan keyakinan khusus: ini pembuka rezeki, ini pelancar uang, ini kunci KPR.

Secara spiritual, itu indah.
Secara batin, terasa khusyuk.
Dan ya, sering kali memang terasa ada efeknya. Lebih tenang. Lebih optimis. Seperti di-boost dari dalam.

Saya tidak menyangkal itu.

Masalahnya muncul di pondasi yang jarang disentuh: ikhtiar lahir.
Bekerja. Berjualan. Mengasah keterampilan. Atau minimal, keluar rumah dengan niat berproses.
Di sini sering ada lubang logika yang diam-diam dibiarkan menganga.

Saya melihat—atau mungkin sedang bercermin—seseorang yang rajin menata langit, tapi lupa menyapu bumi.
Doanya panjang, tapi langkahnya pendek.
Ritualnya disiplin, tapi usahanya menunggu.

Lalu datang kebingungan.
“Kok belum datang ya rezekinya?”
Padahal ia sendiri yang membatasi bentuk rezeki itu: harus uang, harus cepat, harus cukup buat cicilan rumah.

Akhirnya ia menemukan kalimat sakti lain: man jadda wajada.
Siapa bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkan.
Lucunya, di titik ini ia baru sadar—ternyata bersungguh-sungguh itu bukan cuma di sajadah, tapi juga di dunia nyata.

Dan ketika realitas tidak sesuai harapan, muncul lapisan pertahanan terakhir: penyangkalan halus yang dibungkus iman.
“Dunia ini kan sementara.”
“Nanti di akhirat, kenikmatan saya lebih besar dari orang kaya di dunia.”

Saya diam cukup lama di sini.
Bukan karena kalimatnya salah, tapi karena sering kali ia muncul bukan dari kebijaksanaan—melainkan dari kelelahan menerima fakta.

Seolah akhirat dijadikan kompensasi kegagalan manajemen hidup di dunia.
Padahal, bukankah iman justru mengajarkan keseimbangan?
Langit dihubungi, bumi dikerjakan.

Saya sampai pada kesimpulan yang saya sampaikan pelan ke diri sendiri:
ritual dan doa itu bukan mesin penghasil uang, tapi penguat mental untuk menjalani proses.
Ia bukan pengganti usaha, tapi bahan bakarnya.

Dan mungkin Tuhan tidak sedang menghitung berapa ribu sholawat yang saya baca, tapi seberapa jujur saya mengerahkan potensi yang sudah diberikan.

Di akhir kontemplasi ini, saya tidak menyalahkan siapa pun.
Saya hanya mengingatkan diri sendiri dengan nada usil:
kalau saya ingin rezeki turun ke bumi, setidaknya saya jangan duduk menunggu di langit.

Iman tetap dijaga.
Logika tidak dimatikan.
Dan hidup—ah, hidup ternyata minta dua arah: doa yang naik, dan langkah yang bergerak.

You May Also Like

0 komentar