Rapor Anak, Ego Orang Dewasa
Saya menulis status tentang hasil rapor akademik anak dengan niat yang, menurut saya, cukup rapi. Nada tenang, bangga tapi tidak meledak-ledak, reflektif ala orang tua yang sadar diri. Saya ingin merayakan proses, bukan angka. Saya ingin bicara tentang utuh, bukan unggul. Saya bahkan sudah menahan diri untuk tidak pakai kata-kata heroik macam masa depan cerah atau calon pemimpin bangsa.
Lalu komentar datang.
Bukan tentang anak saya.
Bukan tentang proses belajar.
Bukan tentang keseimbangan emosi.
Komentarnya sederhana, padat, dan terasa akrab sejak zaman batu:
“Ya kan orang tuanya juga pinter.”
Saya baca pelan-pelan.
Saya baca ulang.
Saya tarik napas.
Oh. Jadi begini cara kerja logika kolektif kita.
Seolah-olah kepintaran itu gen dominan yang bisa diturunkan seperti warna mata. Seolah-olah otak anak itu fotokopian orang tuanya. Seolah-olah buku, waktu, latihan, kebiasaan duduk lama sambil mikir—itu semua properti tambahan yang tidak relevan.
Di titik itu saya mulai bicara ke diri sendiri.
Saya ini pintar karena apa, sebenarnya?
Karena ayah-ibu saya jenius?
Atau karena saya lebih sering duduk belajar saat teman-teman saya sibuk pacaran di bangku taman?
Kita ini lucu.
Saat anak orang lain pintar, kita cari sebab di luar anak itu.
Orang tuanya pintar. Sekolahnya mahal. Gurunya galak.
Pokoknya bukan karena si anak belajar.
Sebaliknya, kalau anak kita yang biasa-biasa saja, kita bilang:
“Setiap anak punya waktunya sendiri.”
“Akademik bukan segalanya.”
Narasi selalu fleksibel.
Yang kaku cuma ego.
Saya tidak tersinggung. Saya cuma geli.
Karena komentar itu sebenarnya bukan tentang anak saya, tapi tentang cara orang dewasa berdamai dengan pilihan hidupnya sendiri.
Mengakui bahwa anak bisa unggul karena belajar konsisten berarti kita harus jujur pada masa lalu: bahwa dulu kita juga punya kesempatan yang sama. Kelas yang sama. Guru yang sama. Buku yang sama. Waktu yang sama.
Bedanya cuma satu.
Saya belajar.
Kamu pacaran.
Dan itu tidak apa-apa.
Yang jadi masalah adalah ketika pilihan itu perlu diselamatkan dengan mitos genetika.
Kesimpulan versi saya, sambil menutup kolom komentar:
Saya tidak ingin anak saya tumbuh percaya bahwa dirinya pintar karena warisan.
Saya ingin dia tahu: apa pun yang ia capai, itu karena proses yang ia jalani.
Dan kalau suatu hari nilainya turun, saya juga tidak akan menyalahkan genetik.
Saya akan kembali ke hal paling membosankan sekaligus paling jujur di dunia ini:
duduk, belajar, gagal, ulangi.
Sayangnya, itu memang kurang romantis untuk dijadikan komentar. Hmm
0 komentar