Catatan Harian Seorang Warga yang Tiba-tiba Mengangguk Saat Rumah Pejabat Dijarah
Saya kaget pada diri saya sendiri.
Bukan karena rumah pejabat digeruduk massa. Itu sudah sering terjadi, bahkan terlalu sering sampai jadi berita template. Yang membuat saya terdiam justru suara kecil di batin saya sendiri, yang tanpa malu berbisik:
“Rasakan.”
Bukan teriak.
Bukan sumpah serapah.
Hanya satu kata pendek, dingin, dan jujur.
Di titik itu saya bertanya:
ini saya kenapa?
Apakah saya sedang memelihara benih psikopat dalam diri sendiri?
Rumah mewah dijarah. Lemari dibongkar. Barang diangkut. Simbol kekuasaan runtuh dalam satu sore. Dan di satu sudut batin saya, ada kepuasan yang tidak sopan. Bukan karena saya ingin mencuri. Tapi karena akhirnya kemarahan lapisan bawah menemukan bentuknya.
Lalu sisi lain saya berdiri. Lebih rapi. Lebih manusiawi.
Ia berkata: “Ini salah. Ini brutal. Ini melanggar hukum.”
Dua suara itu tidak saling meniadakan. Mereka hidup berdampingan. Dan justru itu yang membuat saya gelisah.
Saya sadar, saya tidak sedang membenci manusia.
Saya sedang membenci sistem yang membuat manusia kebal dari rasa akibat.
Ketika kebijakan dibuat dari ruangan ber-AC, tanpa pernah mencium bau dapur rakyat, tanpa pernah menunda bayar listrik, tanpa pernah memilih antara beli beras atau beli obat—amarah itu menumpuk. Diam. Tidak heroik. Tidak viral. Sampai akhirnya ia meledak.
Dan jujur saja: membayangkan pejabat itu harus merasakan takut, kehilangan, dan ketidakberdayaan sesaat… batin saya berkata, “Ya. Setidaknya sebentar.”
Di situlah saya mengerti: ini bukan psikopati.
Ini kelelahan moral.
Proses yang “sehat” selalu ditawarkan dengan nada bijak: revisi aturan, dialog, kajian, naskah akademik, hearing, dan entah berapa tahun lagi. Semuanya benar. Semuanya ideal. Tapi juga semuanya melelahkan bagi orang yang hidupnya sudah habis untuk bertahan.
Terapi kejut—meskipun kasar, meskipun tidak elegan—kadang bekerja bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk membangunkan.
Saya tidak membenarkan penjarahan.
Saya juga tidak sepenuhnya bisa mengutuknya.
Karena di balik tindakan itu, ada pesan primitif yang sangat jelas:
Kami ada. Kami lelah. Dan kami bisa marah.
Mungkin inilah ironi terdalamnya:
ketika hukum terlalu lama tidak mendengar, kekacauan akan berbicara lebih dulu.
Kesimpulannya saya simpan pelan-pelan, agar tidak berubah jadi pembenaran:
Saya tidak ingin dunia diatur oleh amuk massa.
Tapi saya juga muak pada kekuasaan yang baru tersadar saat rumahnya sendiri disentuh.
Jika itu membuat saya terlihat kejam di satu sisi, biarlah.
Setidaknya saya jujur pada diri sendiri:
kadang, empati juga butuh diguncang,
karena kata-kata sudah terlalu lama diabaikan.
0 komentar