Mantan Pejabat, Meme, dan Saya yang Capek Tapi Masih Nonton
Saya lelah.
Bukan lelah karena mantan pejabat itu terus muncul di media sosial. Saya lelah karena polanya selalu sama, rapi, dan terlalu mudah ditebak.
Perundungan visual. Meme. Editan wajah. Kalimat yang sengaja dibuat kasar tapi “katanya” lucu. Mayoritas netizen mengamini. Tertawa. Membagi. Mengulang. Seolah ini pesta kecil bernama balas dendam kolektif.
Yang membuat saya berhenti scroll bukan lagi kontennya, tapi satu pertanyaan sederhana:
Kok dia kayaknya santai aja, ya?
Tidak defensif. Tidak klarifikasi serius. Tidak kelihatan terguncang.
Dan di situ, kecurigaan saya mulai hidup.
Apakah ini memang bagian dari sistem yang ia bangun sendiri?
Nama boleh jatuh, tapi tetap beredar. Toh di negeri ini, dilupakan lebih menakutkan daripada dihina.
Atau ini kerja lawan politik?
Delegitimasi sisa-sisa pengaruh. Mengikis wibawa lewat lelucon, karena ejekan jauh lebih efektif daripada debat kebijakan.
Atau jangan-jangan, ini bukan soal dia sama sekali.
Ini soal algoritma.
Riding the wave.
Konten laku. Emosi murah. Kemarahan publik jadi komoditas. Monetisasi berjalan. Semua pihak kenyang: kreator, platform, bahkan netizen yang merasa “bermoral” setelah menghina.
Lalu muncul kemungkinan yang paling tidak enak saya akui:
Mungkin ini cuma residu kelelahan.
Kebijakan yang menekan. Hidup yang berat. Harga naik. Nafas pendek. Tapi tidak tahu harus marah ke siapa.
Akhirnya kemarahan itu mencari wadah yang aman—mantan pejabat. Sudah tidak berkuasa. Tidak bisa membalas. Sah untuk dihajar rame-rame.
Ini bukan keadilan. Ini katarsis.
Dan saya, di tengah semua itu, berdiri ambigu.
Saya tidak membela mantan pejabat itu. Saya juga tidak sepenuhnya menikmati penghinaan massal ini.
Ada yang terasa murahan.
Bukan karena pejabat itu suci. Tapi karena kemarahan kita terasa dipakai, diperah, lalu ditinggal.
Hari ini kita menghina. Besok lupa. Minggu depan ada target baru.
Sementara kebijakan—yang dulu bikin kita marah—sudah berganti wajah, tapi tetap menekan dengan cara yang sama.
Kesimpulan saya pahami dengan napas pelan:
Saya capek bukan karena mantan pejabat itu dihina.
Saya capek karena kita terlalu mudah diajak menertawakan simbol, tapi jarang diajak berpikir tentang sistem.
Dan mungkin, yang paling ironis:
selama kita sibuk membuat meme,
sistem yang lebih besar sedang tertawa tanpa perlu ikut diedit.
0 komentar