Saya Ingin Polisi Jujur, Tapi Dompet Saya Lebih Duluan Buka
Saya ingin hidup di negara dengan penegak hukum yang profesional. Tegak. Tidak bisa dibeli. Tidak goyah oleh amplop, kopi, atau kalimat “bisa dibantu, Pak?”. Di kepala saya, polisi ideal itu seperti patung keadilan: mata tertutup, timbangan seimbang, pedang tajam tapi adil.
Masalahnya, saya sering lupa satu detail kecil:
saya sendiri tidak selalu seideal itu.
Suatu hari saya melanggar lampu merah. Bukan karena darurat, bukan karena ada ambulans di belakang. Murni karena terburu-buru dan sok yakin “ah sebentar doang”. Peluit berbunyi. Motor menepi. Dunia mendadak sunyi.
Di situ saya masih punya prinsip. Setengah matang, tapi ada.
Saya ingin hukum ditegakkan.
Saya ingin ditilang resmi.
Saya ingin sistem bekerja.
Lalu petugas mendekat. Nada suaranya biasa saja. Wajahnya juga. Tidak galak, tidak heroik. Dan di antara kalimat formal itu, ada celah kecil—ruang abu-abu—yang saya pahami tanpa perlu dijelaskan.
Dan anehnya, tangan saya yang pertama bergerak bukan tangan moral, tapi tangan dompet.
Transaksi terjadi cepat. Hening. Efisien.
Tidak ada pidato tentang keadilan.
Tidak ada pasal dibacakan.
Tidak ada rasa heroik.
Hanya dua manusia dewasa yang sama-sama paham: hari ini hukum sedang libur sebentar.
Di situ saya sadar sesuatu yang agak menampar:
saya bukan korban sistem.
saya bagian dari sistem itu sendiri.
Saya ingin polisi jujur, tapi saya juga ingin cepat sampai rumah.
Saya ingin integritas, tapi saya juga ingin urusan selesai hari itu juga.
Saya ingin negara bersih, tapi saya kotor sedikit—asal praktis.
Dan lucunya, di momen itu, kami berdua telanjang di depan hukum.
Petugas tanpa seragam moralnya.
Saya tanpa idealisme yang sering saya ceramahi di kepala.
Pelanggaran saya kecil, kata orang. Hanya lampu merah. Tapi dari pelanggaran kecil itulah ekosistem ketidakjujuran bertahan hidup. Bukan dari korupsi milyaran saja, tapi dari ribuan transaksi receh yang kita sebut “yaudahlah”.
Saya sering mengutuk sistem di meja kopi.
Tapi di jalan raya, saya berkompromi dengannya.
Akhirnya saya menarik napas dan menulis ini untuk diri saya sendiri:
Saya boleh menuntut aparat bersih, tapi saya tidak boleh pura-pura bersih.
Karena hukum yang bisa dibeli bukan hanya karena ada yang menjual—
tapi karena terlalu banyak dari kita yang siap membeli.
Dan mungkin, revolusi paling sulit bukan mengganti institusi,
tapi melatih tangan sendiri untuk tidak otomatis merogoh dompet
saat peluit berbunyi.
0 komentar