Jika Tersesat di Hutan, Saya Jadi Kambing, Istri Saya Jadi Predator

by - 9:00 AM

Saya ini suami Sunda.

Istri saya Jawa.
Dan seperti semua pernikahan lintas budaya yang tampak damai di luar, konflik kami sering dimulai dari… piring makan.

Saya tumbuh dengan lalapan.
Daun mentah.
Kemangi.
Kacang panjang belum direbus.
Daun apa pun asal hijau dan tidak bergerak.

Istri saya pernah meledek dengan kejam tapi jujur:
“Suami aku ini kalau tersesat di hutan, bukannya panik malah jadi herbivora.”

Saya kesel.
Tapi diam-diam saya mengakui: iya juga.
Logikanya sederhana:
kalau ini tumbuhan, aman, bisa dimakan, tubuh lanjut hidup.
Saya bukan primata modern, saya evolusi lambat.

Sebagai balasan, saya meledek pola makan orang Jawa.
Saya bilang:
“Ini bangsa aneh. Makan ulat jati, belalang, apa saja yang lompat dan tidak sempat kabur.”

Di kepala saya, orang Jawa itu bukan omnivora.
Mereka itu unit darurat protein berjalan.

Kalau kami tersesat di hutan bersama, saya sudah membayangkan pembagian peran:

  • Saya: deforestasi.
    Daun, pucuk, umbi—habis.
  • Istri saya: mesin pembunuh hayati.
    Serangga, ulat, belalang—punah.

Kami tidak bertahan hidup bersama.
Kami mendominasi ekosistem.

Dan di titik ini saya berhenti ketawa, lalu mikir pelan.

Ternyata ini bukan soal selera makan.
Ini soal cara manusia membaca dunia.

Saya membaca dunia sebagai:

“Apa yang aman? Apa yang tidak ribut? Apa yang tidak melawan?”

Istri saya membaca dunia sebagai:

“Apa yang bisa dimakan? Apa yang bisa diolah? Apa yang bisa ditaklukkan?”

Saya defensif.
Dia adaptif.

Saya menghindari konflik.
Dia menghabisinya sekalian.

Makanya saya hidup nyaman dengan daun.
Dan dia hidup praktis dengan apa pun yang bisa digoreng.

Lucunya, kami saling mengejek…
tapi justru di situlah keseimbangan muncul.

Saya mengajari dia: tidak semua hal harus diburu.
Dia mengajari saya: tidak semua hal harus dihindari.

Dan mungkin, pernikahan itu memang seperti ini: bukan mencari yang sama, tapi membiarkan perbedaan hidup di meja yang sama tanpa saling membunuh.

Kalau pun tersesat di hutan, setidaknya saya tahu satu hal pasti:

Saya tidak akan kelaparan.
Dan istri saya tidak akan bosan.

Sisanya?
Hutan yang ketar-ketir.

You May Also Like

0 komentar