Ini Cuma Daster, Tapi Kamu Belum Siap Jadi Pendekar

by - 7:05 AM

Saya sering ketemu tipe calon murid yang reaksinya sama.

Kepalanya miring sedikit, alis naik, lalu geleng-geleng pelan.
Ekspresinya khas orang yang batinnya berkata:
“Ini orang kebanyakan mikir apa gimana sih?”

Kalimatnya keluar juga, cepat atau lambat:
“Bang… masa urusan daster doang pake ilmu psikologi?”
Kadang ditambah bonus:
“Ilmu fisika momentum segala, matematika biar audience satu dan dua merasa adil, sastra buat milih diksi, filsafat buat baca ego… ini kan cuma daster?”

Saya biasanya tidak langsung menjawab.
Saya biarkan ia ngos-ngosan sendiri mengejar logika yang ia anggap lurus.

Lalu saya bilang pelan, supaya tidak kaget:
“Iya. Kalau mau pakai ilmu lapisan atas, tidak apa-apa.”

Excel.
Laba-rugi.
Diskon.
Kompensasi.
Selesai.

Itu jalur cepat. Jalur bersih. Jalur yang tidak menuntut batin ikut kerja lembur.
Dan jalur itu sah. Saya tidak pernah mencela.

Tapi masalahnya—dan ini yang sering bikin orang mundur teratur—
jualan di lapangan tidak selalu bermain di lapisan atas.

Saya kasih contoh yang paling sepele.
Judul postingan.

Versi umum:

Daster kencana ungu LD 120

Sudah.
Pendek.
Hemat karakter.
Excel-friendly.

Versi saya:

Daster kencana ungu label biru LD 120 | daster rayon grade A lengan pendek bawah lutut 3 kancing depan busui friendly 2 saku depan

Di titik ini biasanya mereka diam.
Bukan karena tidak bisa membaca.
Tapi karena baru sadar:
“Oh… ini mikirnya kejauhan ya.”

Padahal ini belum filsafat.
Belum psikologi berat.
Ini baru empati teknis:
membayangkan pembeli yang panik soal kancing,
takut bajunya nerawang,
perlu saku buat HP,
dan masih masak sambil nyusuin anak.

“Kepikiran?”
Saya tanya dalam hati, bukan ke mereka.

Biasanya jawabannya terlihat dari tubuh.
Bahunya turun.
Tatapannya mundur.
Geraknya pelan-pelan seperti abdi dalem di depan raja—
ngesot halus, tidak berisik, tapi jelas ingin pulang.

Dan di situ saya paham:
calon murid ini belum siap jadi pendekar.

Bukan bodoh.
Bukan malas.
Tapi belum siap menerima bahwa jualan bukan cuma soal barang,
melainkan soal menerjemahkan kecemasan manusia ke dalam kalimat.

Tidak apa-apa.
Serius.

Tidak semua orang harus turun ke lapisan bawah.
Ada yang cukup main di permukaan dan hidupnya baik-baik saja.

Saya tidak mengejek mereka yang mundur.
Saya malah hormat.
Karena mereka jujur pada kapasitasnya.

Dan saya pun jujur pada diri saya sendiri:
kalau kamu mengira daster itu cuma kain,
maka kita memang tidak sedang bicara di medan yang sama.

Ini bukan soal pamer ilmu.
Ini soal kesiapan.

Karena di dunia ini,
bahkan sepotong daster pun bisa menuntut
psikologi, logika, empati, bahasa,
dan sedikit ketahanan jiwa.

Kalau kamu belum siap,
silakan mundur dengan hormat.
Pintu tidak saya kunci.

Pendekar memang tidak banyak.
Dan memang tidak perlu.

You May Also Like

0 komentar