Daster, Doa, dan Transaksi yang Tidak Tercatat di Spreadsheet

by - 3:00 AM


Saya baru sadar, benang merah itu akhirnya kelihatan juga. Tipis, tapi nyata. Cukup bikin saya menyeringai—eh, tersenyum deng. Hihihi.

Ternyata selama ini, saya ini bukan sekadar iseng. Saya konsisten iseng. Dan anehnya, dari semua keisengan itu, ada satu pola yang terus muncul: saya tidak pernah benar-benar bisa memisahkan manusia dari transaksi.

Mungkin itu sebabnya live daster saya sering dimulai dengan keheningan yang canggung. Penonton ada, puluhan, stabil, tapi sunyi. Seperti sirkus yang tirainya sudah terbuka, badutnya sudah berdiri di tengah arena, tapi penonton masih ragu mau tepuk tangan atau pulang.

Lalu saya mulai bicara.
Bukan soal model.
Bukan soal bahan.
Bukan soal warna.

Saya bicara soal hidup.
Soal panas di dapur.
Soal nyuci sambil ngedumel.
Soal kepala penuh karena kaos kaki anak hilang satu.
Soal daster yang akhirnya jadi lap kompor karena gerah dan emosi bersatu.

Saya ketawa sendiri membayangkan emak-emak jadi Medusa di dapur, daster dirobek karena stres. Saya tahu ini usil. Saya tahu ini melewati batas “jualan yang benar”. Bahkan kalau Adam Smith nongol dan ikut nonton live saya, mungkin dia bakal menghela napas panjang dan bilang, “ini pasar atau sesi terapi kelompok?”

Tapi anehnya, transaksi jalan.

Ada kakak dari Ternate, lagi hamil. Saya doakan. Dia beli satu daster 90 ribu. Ongkir 50 ribu. Secara logika ekonomi, ini tidak masuk akal. Tapi secara manusiawi, masuk. Dia tidak beli kain. Dia beli perasaan: didengar tanpa harus menjelaskan hidupnya.

Istri saya awalnya melarang saya ngomong ke mana-mana. Jangan bawa psikologi emak-emak. Katanya membingungkan. Saya paham. Dalam logika dagang, itu noise. Tidak bisa dihitung. Tidak bisa dipresentasikan di spreadsheet.

Belakangan, ia diam. Membiarkan. Bahkan mempercayakan live ke saya. Bukan karena saya paling pintar jualan, tapi mungkin karena ia melihat sesuatu yang tidak bisa ia definisikan. Dan ia jujur soal itu. Ia bahkan tidak mampu mendefinisikan dirinya sendiri.

Lucu ya.
Yang rese, usil, nyerempet ke mana-mana justru lebih dulu berdamai dengan ketidakjelasan diri.

Saya tidak sibuk jadi suami ideal.
Tidak sibuk jadi penjual profesional.
Tidak sibuk jadi pembicara motivasi.

Saya hanya hadir sebagai manusia. Kadang ngawur. Kadang empatik. Kadang kebablasan. Tapi utuh.

Dan mungkin itu sebabnya, usil saya bekerja.
Bukan karena licik.
Bukan karena pintar.
Tapi karena jujur.

Saya akhirnya paham:
Kalau iseng saya menghasilkan, itu bukan bonus.
Itu konsekuensi dari satu hal sederhana—
saya menolak memotong manusia menjadi sekadar angka.

Dan hari ini, menyadari itu, saya tersenyum kecil.
Masih waras.
Dan ternyata, itu cukup.

You May Also Like

0 komentar