Demi Daster, Saya Rela Belajar Drama Korea

by - 6:00 AM

Saya baru sadar, hidup saya belakangan ini penuh ajakan kecil. Bukan ancaman, bukan paksaan. Ajakan.

“Yuk.”
Kata yang tampaknya sepele, tapi efeknya sering tidak masuk akal.

Awalnya saya kira ini cuma gaya ngomong. Kebiasaan bapak-bapak yang capek marah, lalu memilih nada rendah agar rumah tidak meledak. Ternyata, pola ini bocor ke mana-mana. Ke cara saya menenangkan anak, ke cara saya berdamai dengan istri, sampai—entah bagaimana ceritanya—ke live jualan daster.

Saya ingat jelas, ada momen di live ketika penonton ramai tapi sunyi. Tidak ada komentar. Tidak ada checkout. Rasanya seperti jadi badut sirkus yang baru masuk arena, berdiri di tengah lampu, tapi penonton masih sibuk beli popcorn.
Biasanya orang akan panik. Saya malah iseng.

Saya tidak bicara soal bahan, motif, atau harga. Saya bicara soal hidup. Tentang kepala yang penuh, dapur yang panas, cucian yang tidak pernah benar-benar habis. Tentang daster yang akhirnya bukan soal cantik, tapi soal adem dan waras. Saya tertawa sendiri, membayangkan emak-emak berubah jadi Medusa karena gerah dan stres, lalu merobek daster dan menjadikannya lap kompor.

Anehnya, transaksi jalan.

Di titik itu saya sadar: saya tidak sedang menjual daster. Saya sedang mengajak orang bernapas sebentar.

Pola itu muncul lagi saat ada yang komentar, “Bingung, bagus semua.”
Kalimat sederhana, tapi sering diperlakukan seperti kelemahan. Banyak penjual akan langsung menekan: ayo cepat, stok terbatas, jangan galau. Saya malah ikut bingung.

“Iya sih kak,” kata saya, “bingung di antara dua pilihan bagus itu kaya lagi ditaksir Lee Min Ho sama Lee Jun Gi barengan.”

Live ketawa.
Saya lanjut, dengan wajah pura-pura serius, “Kalau dananya cukup sih, ambil dua. Kalau nggak, ya satu juga nggak apa-apa. Hidup ini keras, jangan tambah keras ke diri sendiri.”

Dia tersipu.
Checkout dua.

Di situ saya mengalah. Bukan kalah—mengalah. Saya memberi izin. Dan anehnya, izin itu justru membuat orang berani memilih.

Makanya saya sampai di satu kesimpulan absurd: demi daster, saya rela belajar drama Korea. Bukan karena ingin jadi ahli hiburan, tapi karena ingin nyambung. Ingin bahasa saya tidak jatuh dari langit. Ingin ajakan saya terasa manusiawi.

Saya jadi ingat pola yang sama di rumah. Anak yang tidak mau tidur tidak saya ancam dengan hantu. Saya ajak. “Yuk tidur, biar besok badan seger.”
Anak yang menangis tidak saya bentak agar diam. Saya peluk sampai lupa kenapa dia menangis.

Dan ternyata, ajakan itu menular. Ke rumah, ke live, ke hidup.

Mungkin ini sebabnya istri saya akhirnya menyerah dan berkata, “Udah, kamu live aja. Ngomong apa aja, yang penting ada transaksi.”
Dia mungkin tidak sadar, tapi saya tahu: yang saya lakukan bukan bicara sembarangan. Saya sedang menukar tekanan dengan ajakan.

Saya dulu mengira usil itu cuma sifat iseng yang harus dikekang. Sekarang saya tahu, usil saya adalah cara bertahan hidup. Cara membuka ruang, mengendurkan ego, dan membiarkan orang—termasuk saya sendiri—merasa cukup.

Dan kalau pada akhirnya semua itu bermuara pada dua helai daster yang tercheckout, saya anggap itu bonus kecil dari semesta.

Karena yang paling mahal bukan dasternya.
Yang mahal itu rasa:
“Oh, saya nggak salah karena bingung.”

Dan kalau itu bisa saya jual sambil bercanda, sambil ketawa, sambil update drama Korea—
ya sudahlah.

Demi daster, saya rela. 

You May Also Like

0 komentar