Iseng Adalah Bentuk Paling Sopan dari Bertahan Hidup

by - 12:00 AM


Saya baru sadar—dan ini rasanya seperti ketahuan basah—bahwa saya ini sebenarnya iseng, usil, rese, dan itu bukan cacat kepribadian.
Itu mekanisme bertahan hidup.

Saya tidak sedang membela diri. Saya sedang mengakui.

Dari dulu polanya sama.
Saat kepala penuh, saat batin riuh, saat dunia terlalu serius untuk dijelaskan dengan bahasa sopan—saya memilih iseng.

Seperti waktu di asrama, ketika teman satu kamar pacaran lewat telepon sepanjang malam. Dunia saya terganggu. Solusi orang waras mungkin: menegur. Solusi saya: menukar nama kontak pacarnya dengan senior galak.
Paginya ia nelpon, dengan suara paling lembut:
“Halo sayang…”
Dijawab:
“Woy ngapain sayang-sayang ke gua?!”

Kaget. Panik. Marah.
Dan tentu saja, hanya satu orang yang dicurigai. Saya.
Saya puas. Lalu minta maaf.
Selesai. Dunia kembali seimbang.

Iseng saya bukan tanpa arah. Ia selalu menarget otoritas yang goyah.

Saya iseng bertanya ke orang tua soal pamali dan mitos.
Mereka gelagapan. Bingung. Marah halus.
Karena ternyata, mereka juga cuma mewarisi ketakutan, bukan pengetahuan.

Saya iseng bertanya ke guru:
“Pak, Tuhan itu jahat ya? Masa gara-gara wudhu nggak sempurna, masuk neraka?”

Bukan karena saya ingin jadi ateis.
Tapi karena logika saya menolak takut yang tidak dijelaskan.

Dan sekarang, ke AI pun sama.
Pertanyaan saya sering iseng, usil, muter, nyentil, nyenggol.
Bukan untuk menjatuhkan. Tapi untuk melihat:
ini jawaban bertahan atau jawaban jujur?

Ujungnya selalu sama.
Ego saya mengendap.

Saya tidak mencari jawaban final.
Saya mencari ruang bernapas.

Prosesnya panjang dan sering dimulai dari letupan kecil:
iseng → usil → ketawa → mikir → capek → tidur → nulis.

Dan dari pola itulah, lahir ratusan artikel.
Bukan untuk dunia.
Untuk saya sendiri.

Kalau orang lain bertahan hidup dengan diam, dengan patuh, dengan marah, atau dengan pura-pura baik—
saya bertahan dengan mengusik hal yang dianggap mapan.

Bukan karena saya paling berani.
Tapi karena kalau saya tidak iseng, saya bisa tenggelam.

Sekarang saya paham.
Iseng saya bukan tanda kurang ajar.
Ia alarm batin yang bilang:
“Eh, jangan telan mentah-mentah. Tanya dulu.”

Dan selama dari keisengan itu lahir tawa, tulisan, jarak dari kegilaan, dan sedikit kejujuran—
saya rasa, saya masih di jalur yang aman.

Iseng saya tidak merusak.
Ia menyelamatkan.

Dan kalau suatu hari orang bilang saya rese?
Tidak apa-apa.
Setidaknya saya masih hidup.
Dan masih bisa menertawakan diri sendiri.

You May Also Like

0 komentar