Saya Jualan Daster, Tapi yang Check Out Itu Logika yang Sudah Lelah

by - 6:49 AM

Saya pernah ingin jualan dengan cara paling lurus sedunia: baca katalog, sebut harga, selesai. Tidak ada apa-apa. Tidak ada makna. Tidak ada filsafat. Tapi entah di menit ke berapa, mulut saya kebablasan. Ngobrol. Ngawur. Lompat sana-sini. Dan anehnya, di situ justru ketemu manusia-manusia dengan logika yang… ya ampun, loncat-loncat seperti belalang habis minum kopi.

Ada satu momen yang sampai sekarang masih bikin saya berhenti sejenak di batin sendiri. Ada orang yang begitu hormat sama saya. Ketemu, cium tangan. Saya bengong. Dalam hati saya mikir: loh, ini kan cuma ngobrol?
Lalu dia cerita dengan penuh keyakinan tentang seseorang yang katanya kepeleset saat wudhu, terus matanya kecolok keran. Tamat. Seperti dongeng urban tanpa editor.

Saya takjub. Tapi bukan pada ceritanya. Saya takjub pada pondasi logikanya. Bagaimana bisa sebuah rekaan lahir dengan keyakinan setegas itu? Di belahan dunia mana pun, skenario itu terdengar seperti latihan imajinasi kelas darurat. Tapi justru di situ saya sadar: saya tidak sedang berhadapan dengan fakta, saya sedang berhadapan dengan cara batin bertahan hidup.

Dan mungkin itu sebabnya, doa penutup checkout yang menurut saya cuma basa-basi—lip service biar sopan—kok dimaknai lebih oleh mereka.
“Terima kasih ya kak sudah checkout. Semoga ukurannya cukup, sampainya tepat waktu. Salam buat keluarga di Sulawesi. Semoga rezekinya cukup—mau beli mobil cukup, renov rumah cukup, atau sekadar beli daster baru juga cukup.”

Bagi saya, itu kalimat ngalir.
Bagi mereka, itu seperti disentuh kepalanya pelan-pelan.

Saya jadi sadar: reflektif itu melelahkan. Beneran.
Tapi hasil sampingannya (kalau boleh sombong sedikit) memang aneh: orang memandang saya aneh sekaligus takjub. Kombinasi yang mahal dan tidak dijual di marketplace mana pun.

Takjubnya itu tampak di detail kecil. Emak-emak dengan emosi bertumpuk, rutinitas panjang, beban domestik yang tidak pernah cuti, masih bisa memilih diksi paling halus:
“Daster ini cocok untuk postur badan berisi ya kak.”
Lalu ditutup santai: “bahasa Rusia-nya gemoy.”

Itu bukan sekadar lucu. Itu tanda merasa aman.
Orang hanya bisa lembut kalau ia tidak sedang dihakimi.

Dan polanya makin absurd: live sepi interaksi, saya ngoceh sendiri, transaksi jalan.
Secara teori jualan, ini menabrak buku.
Secara logika manusia, ini malah masuk akal.

Karena yang saya jual bukan cuma kain.
Yang bergerak itu rasa: ditemani tanpa dituntut.

Makanya mereka balik lagi. Minggu depannya datang lagi. Beli lagi.
Padahal jaraknya Jawa–Sulawesi. Ongkir. Nunggu seminggu. Cuma buat satu potong daster.

Saya bertanya ke diri sendiri:
Emang di Sulawesi nggak ada bakul daster?
Pasti ada. Banyak.
Tapi belum tentu ada yang ngomongnya bikin batin duduk.

Di titik ini saya luruskan satu hal ke diri saya sendiri:
ini bukan soal saya hebat, bukan pula soal mereka polos. Ini soal manusia yang logikanya sudah capek, lalu menemukan ruang kecil untuk bernapas. Kadang lewat musik. Kadang lewat cerita ngawur. Kadang lewat live daster yang tidak nyambung dengan aktivitas masak.

Kesimpulannya sederhana tapi berat:
di lapisan batin, logika sering kalah oleh rasa.
Bukan karena rasa bodoh.
Tapi karena rasa akhirnya merasa cukup.

Dan manusia yang sudah merasa cukup…
biasanya balik lagi.
Bukan karena butuh.
Tapi karena nyaman.

Saya tutup refleksi ini sambil senyum kecil ke diri sendiri:
capek, iya.
Tapi capek yang hidup.
Capek yang bikin batin duduk, ngelap keringat, lalu berbisik,
“Oh… ternyata begini toh polanya.”

You May Also Like

0 komentar