Di Live Daster Jadi Malaikat, di Gosip Jadi Algojo

by - 3:00 AM

Saya sering heran, tapi pura-pura tidak heran.

Di live daster saya, emak-emak itu anggun. Kalem. Bahas harga sambil nyelip doa. Kalau ada yang salah kirim, nadanya lembut: “Gapapa bang, namanya juga manusia.” Rasanya seperti habis pengajian subuh.

Lalu saya iseng—atau bodoh—masuk ke kolom komentar postingan selingkuh.
Orangnya sama. Akunnya sama. Namanya sama.
Tapi jiwanya… pindah server.

Di sana tidak ada lagi empati.
Yang ada hanya hasrat menonton orang lain dihukum, tanpa mau berdiri di kursi terdakwa itu sendiri.

Saya mulai paham polanya.

Netizen tidak benar-benar suka keadilan.
Mereka suka posisi aman saat melempar batu.

Melihat orang lain tersiksa itu seperti hiburan murah:
emosi naik, adrenalin jalan, tapi konsekuensinya nol.
Tidak perlu refleksi.
Tidak perlu bertanya, “Kalau saya di posisi itu?”
Karena jawabannya menakutkan.

Makanya posisi favorit netizen adalah hakim dadakan.
Bukan karena mereka suci, tapi karena takut jika giliran mereka nanti tak ada yang membela.

Yang lebih menarik: mayoritas yang paling buas justru mereka yang di kehidupan sehari-hari harus menahan diri.
Harus sopan.
Harus manut.
Harus sabar.

Media sosial jadi tempat balas dendam batin.
Tempat mengeluarkan hewan tanpa takut dimarahi tetangga.

Saya tidak bilang mereka jahat.
Saya bilang mereka lelah dan tidak punya ruang aman untuk marah.

Masalahnya, kemarahan yang tidak pernah diolah akan mencari korban.
Dan korban paling aman adalah:
orang yang sudah jatuh,
sudah salah,
dan sudah dibenci bersama-sama.

Di live daster, tidak ada korban.
Di gosip, ada.
Makanya jiwa barbar keluar dengan bangga.

Saya sendiri?
Kadang tertawa.
Kadang muak.
Kadang sadar: oh, ternyata saya juga bisa seperti itu kalau tidak hati-hati.

Kesimpulan saya sederhana dan agak sinis:
manusia tidak suka melihat keadilan ditegakkan, mereka suka melihat penderitaan yang terasa pantas.

Dan selama penderitaan itu bukan miliknya,
moral bisa dinegosiasikan,
empati bisa dimatikan,
dan doa bisa ditunda.

Makanya sekarang saya lebih betah di live daster.
Setidaknya di sana, yang ribut cuma ukuran, warna, dan ongkir.
Bukan nasib manusia yang dijadikan tontonan.

You May Also Like

0 komentar