Saya Tidak Pernah Diajari Soal Seks, Hanya Diajari Takut Jadi Aib

by - 12:00 AM

Saya baru sadar, pegangan hidup saya soal seks itu sederhana sekali. Terlalu sederhana untuk sesuatu yang kompleks. Bukan karena saya bijak, bukan karena saya alim, tapi karena saya miskin dan penakut.

Tidak ada kelas khusus. Tidak ada obrolan sehat. Tidak ada orang dewasa yang duduk dan berkata, “Ini tubuhmu, ini hasratmu, ini konsekuensinya, ini caramu bertanggung jawab.”
Yang ada hanya satu kalimat tak tertulis yang diturunkan lintas generasi:
jangan sampai hamil, karena itu aib.

Saya tumbuh dengan potongan-potongan logika yang tambal sulam.
Usia empat tahun, saya tahu olah syahwat bisa bikin perut gembung dan keluar anak—tanpa tahu prosesnya. Remaja, saya tahu ini berbahaya—tanpa tahu kenapa. Dewasa, saya tahu ini dosa—tanpa pernah benar-benar tahu batasan, pilihan, dan tanggung jawabnya.

Di kampus, istilah-istilah beterbangan seperti poster sobek: ayam kampus, kimcil, kupu-kupu malam. Saya mendengarnya tanpa ingin mendekat. Bukan karena saya lebih bermoral, tapi karena kepala saya langsung menghitung: rumah kecil, dompet tipis, masa depan belum jelas.
Logika saya waktu itu bukan etika—tapi survival.

Saya tidak diajari mengelola hasrat.
Saya hanya diajari takut pada akibat sosialnya.

Hamil di luar nikah?
Itu bukan sekadar kesalahan—itu hukuman sosial.
Dicibir, dibicarakan, dijadikan contoh buruk, lalu ditinggalkan tanpa panduan.
Lucunya, semua orang sepakat itu hina, tapi sedikit yang mau menjelaskan bagaimana mencegahnya dengan waras.

Maka jangan heran kalau nanas muda jadi pengetahuan turun-temurun.
Jangan heran kalau rumor lebih dipercaya daripada edukasi.
Jangan heran kalau seks jadi sesuatu yang dilakukan sembunyi-sembunyi tapi dihakimi ramai-ramai.

Saya menyadari satu hal yang agak pahit tapi jujur:
ketakutan saya dulu bukan hasil pendidikan, tapi hasil kekosongan informasi.

Dan kekosongan itu diisi oleh mitos, rasa bersalah, dan ancaman neraka instan.

Baru belakangan saya mengerti:
seks bukan cuma soal moral, tapi soal pengetahuan.
Bukan cuma soal iman, tapi soal kesiapan.
Bukan cuma soal larangan, tapi soal pilihan yang sadar.

Ironisnya, saya selamat bukan karena sistem mendidik saya dengan baik, tapi karena hidup saya cukup keras untuk membuat saya berhitung.
Banyak yang tidak seberuntung itu.

Hari ini, saat saya menertawakan nanas muda, gosip, dan absurditas netizen, saya sadar tawa itu pahit. Di baliknya ada generasi yang tumbuh tanpa peta, lalu dimarahi karena tersesat.

Kesimpulan saya sederhana, dan mungkin terdengar kurang ajar:
tabu tidak pernah melindungi siapa pun—pengetahuan yang melindungi.

Dan kalau hari ini saya bisa menulis ini dengan tawa kecil di ujung kalimat, itu bukan karena saya sudah suci.
Tapi karena akhirnya saya mengerti:
yang paling lama saya butuhkan bukan penghakiman,
melainkan penjelasan yang jujur.

You May Also Like

0 komentar