Kanan Itu Kiri, dan Saya Tetap yang Salah
Otak manusia itu sebenarnya canggih.
Ia tahu mana kiri, mana kanan.
Masalahnya bukan di pengetahuan, tapi di jalur distribusi kata ke mulut.
Seringnya, otak sudah sampai tujuan, tapi lisannya nyasar duluan.
Dari pengalaman hidup saya—yang tidak ilmiah tapi konsisten—fenomena ini intensitasnya cukup tinggi di kaum ibu.
Mohon dicatat: ini intermezo, bukan tesis. Jangan bawa ke pengadilan HAM.
Saya pribadi cukup percaya diri soal arah.
Maklum, mantan driver online.
Baca peta itu makanan sehari-hari.
Saya bisa tahu belokan salah hanya dari rasa getar setir dan firasat batin.
Suatu hari, saya naik motor menuju tempat yang belum saya hafal.
Karena rendah hati (dan sedikit ingin istirahat otak), saya serahkan navigasi ke istri.
Dia pegang peta.
Saya pegang setang.
Kerja sama tim.
Di depan ada perempatan.
Dengan suara yakin, penuh wibawa rumah tangga, ia berkata:
“Yah, di depan belok kanan.”
Saya patuh.
Saya belok kanan.
Tiba-tiba dunia runtuh.
“Kok ke kiri?!”
Nada suaranya bukan bertanya.
Itu vonis.
Saya berhenti sepersekian detik, mencoba mencerna realitas.
Tangan saya masih di gas.
Otak saya loading.
“Loh… tadi bilang kanan?”
“Iya, tapi maksudnya kiri!”
Ah.
Baik.
Ternyata yang salah bukan arah, tapi niat semesta.
Lucunya, di momen itu, saya yang minta maaf.
Bukan karena saya salah,
tapi karena lebih cepat minta maaf daripada menjelaskan logika ke orang yang sedang yakin dirinya benar.
Di situlah saya paham kenapa waktu itu, saat saya bercanda:
“Saya ini pemimpin rumah tangga,”
istri saya ketawa sampai bahunya naik turun.
Bukan karena itu lelucon.
Tapi karena dia tahu, dalam praktiknya,
pemimpin rumah tangga itu tugasnya memimpin… ke arah yang katanya salah, lalu minta maaf dengan elegan.
Sejak kejadian itu, saya belajar satu hal penting:
kanan dan kiri itu relatif,
tapi yang absolut adalah saya tetap salah.
Dan anehnya, saya tidak marah.
Saya malah ketawa.
Karena hidup memang sering begitu.
Otak kita tahu jawabannya,
tapi hubungan butuh sesuatu yang lebih penting dari arah:
kesediaan nyasar bareng tanpa debat panjang.
Lagipula, kalau semua selalu lurus dan benar,
hidup rumah tangga pasti sepi bahan ketawa.
Dan saya?
Saya tetap pemimpin keluarga.
Minimal pemimpin dalam urusan ngalah duluan.
0 komentar