Saya Cuma Tipes, Bukan Dirasuki: Catatan Kecil dari Orang Kecapean yang Disangka Kena Guna-Guna
Saya pernah ada di fase tubuh tumbang: tipes, sariawan, lemas, emosi tumpang tindih. Paket komplit. Bukan dramatis, bukan tragis—capek. Titik.
Tapi anehnya, penanganan yang datang bukan istirahat, bukan makan bener, bukan tidur cukup. Yang datang malah… air doa.
Saya minum. Dengan takzim. Dengan niat baik.
Hasilnya?
Plis. Ini ga ngaruh.
Lalu kesimpulan bergeser cepat—tanpa rem logika.
“Oh berarti kuat jin-nya.”
Lho.
Logika Anda kenapa, Bang? Geser?
Saya cuma tipes. Bakteri. Kelelahan. Emosi yang tidak sempat diurai. Lambung dan mulut saya protes. Itu saja. Tidak ada ritual tengah malam, tidak ada lilin hitam, tidak ada mantra. Tapi tetap saja, hantu diseret ke meja diskusi.
Saya sampai mikir:
Kayaknya kalau hantu denger, dia bakal gerutu sendiri:
“Gue lagi aja kan? Capek tau disalahin terus.”
Yang bikin saya makin sadar, ini bukan soal mistisnya. Ini soal ketidakmauan menerima kenyataan paling sederhana: manusia bisa sakit karena hidupnya terlalu penuh. Terlalu banyak ditahan, terlalu sedikit dilepas. Tapi entah kenapa, bagi sebagian orang, menerima itu lebih berat daripada percaya ada makhluk gaib yang iri sama jadwal kerja saya.
Padahal, kalau dipikir-pikir, hantu mana yang mau repot-repot bikin saya sariawan?
Apa motivasinya?
Apa benefit-nya?
Saya mulai ketawa di situ. Ketawa yang lepas. Karena absurdnya kebangetan. Tubuh saya sudah teriak pelan-pelan, tapi lingkungan malah sibuk manggil dukun imajiner. Seolah mengakui “dia kecapean” itu lebih memalukan daripada “dia kena kiriman”.
Akhirnya saya sembuh bukan karena jin pergi, tapi karena saya berhenti memaksa diri terlihat kuat. Saya tidur. Saya makan. Saya menertawakan keadaan. Saya berdamai dengan fakta bahwa saya manusia biasa, bukan tokoh utama film supranatural.
Kesimpulan kecil yang saya catat untuk diri saya sendiri:
Tidak semua yang tidak kita pahami perlu dighaibkan. Kadang jawabannya terlalu membumi untuk diterima ego: kamu capek, bro.
Dan kalau suatu hari saya tipes lagi lalu ada yang bilang,
“Ini mah bukan sakit biasa,”
saya mungkin akan jawab pelan:
“Iya, ini sakit karena hidup. Bukan karena hantu. Jangan libatkan mereka terus, kasihan.”
0 komentar