Dupa Tetangga dan Ayat yang Tidak Perlu Teriak

by - 6:00 AM

Saya tinggal di komplek yang keyakinannya tidak satu warna. Ada azan, ada lonceng, ada sunyi, dan kadang—ada wangi dupa yang pelan-pelan menyusup lewat teras rumah. Aneh ya, tapi saya suka wanginya. Menenangkan. Padahal saya tahu betul, itu bukan dari rumah saya. Itu dari tetangga yang menganut Konghucu, Tionghoa, dengan ritual yang jelas bukan milik tradisi saya.

Di kepala saya, dupa itu langsung punya alamat makna: ibadah. Cara mereka berbicara dengan yang mereka yakini. Cara mereka berdiri di hadapan sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Secara visual, jujur saja, ia tampak ganjil bagi saya. Asap mengepul di depan rumah, gerakan yang terasa asing, simbol-simbol yang tidak saya hafal. Tapi keanehan itu berhenti di mata, tidak sampai ke tangan atau mulut.

Saya memilih diam.

Bukan karena saya tidak punya pendapat. Tapi karena saya sadar, agresi atas cara orang lain menyembah hanya akan membuka pintu yang sama ke arah saya. Kalau saya berteriak, “Ibadahmu aneh,” pintu itu akan dibalas dengan cermin: “Ibadahmu juga tak kalah absurd.” Dan percakapan semacam itu tidak pernah benar-benar tentang Tuhan. Ia lebih sering tentang ego yang ingin merasa paling sah.

Saya tidak sedang toleran versi poster lomba tujuhbelasan. Saya cuma realistis. Keyakinan itu wilayah batin. Dipaksa pun ia tidak pindah. Diserang pun ia hanya mengeras. Maka diam saya bukan kalah, tapi bentuk hemat energi.

Di titik ini, saya baru sadar: mungkin beginilah cara paling membumi memahami ayat yang sering dikutip tapi jarang dipraktikkan dengan tenang—lakum diinukum waliyadiin. Bukan sebagai slogan di spanduk, tapi sebagai sikap hidup. Kamu di sana, aku di sini. Tidak saling ganggu, tidak saling merasa paling.

Wangi dupa itu tetap datang. Kadang lebih pekat, kadang tipis. Saya menghirupnya sebentar, lalu masuk rumah, menyeduh kopi, dan melanjutkan hidup saya sendiri. Tidak perlu tafsir panjang. Tidak perlu debat. Cukup tahu batas.

Kesimpulan saya sederhana dan sedikit usil:
iman yang sehat tidak sibuk mengomentari cara orang lain berdoa.
Ia sibuk menjaga agar dirinya tidak berubah menjadi polisi Tuhan.

Dan mungkin, ketenangan itu justru datang bukan dari asap dupa,
tapi dari kesadaran bahwa saya tidak perlu ikut campur di altar orang lain.

You May Also Like

0 komentar