Iman yang Tidak Lulus Logika, Tapi Lulus Menenangkan Batin

by - 9:00 AM

Saya ingat betul fase remaja itu—fase ketika kepala penuh pertanyaan dan mulut gatal ingin menjawab semuanya. Di titik itulah saya sempat nyemplung ke satu kolam yang kelihatannya intelektual, tapi ternyata cepat bikin pegal: debat agama.

Awalnya saya kira ini ruang pencarian. Ruang orang-orang duduk setara, saling menguji, lalu pulang dengan kesimpulan sederhana: kita sama-sama manusia, mari hidup berdampingan. Ternyata tidak. Yang saya temui justru adu otot logika bertuhan. Siapa Tuhan paling rasional, siapa kitab paling konsisten, siapa iman paling tahan banting saat disorot senter rasio.

Saya jengah. Cepat.

Bukan karena saya kehabisan argumen, tapi karena saya sadar: ini bukan percakapan, ini kompetisi. Dan hadiahnya apa? Kepuasan ego sesaat, plus bonus rasa ingin mengoreksi iman orang lain.

Saya lalu iseng—atau mungkin nekat—menoleh ke iman saya sendiri. Saya bongkar pelan-pelan pondasinya. Saya tes dengan logika. Hasilnya jujur dan agak menampar: iman saya tidak masuk akal. Tidak lulus uji rasionalitas murni. Kalau iman ini diajukan sebagai skripsi filsafat, mungkin sudah disuruh revisi dari bab satu.

Di situ saya sampai pada kesimpulan yang cukup radikal, bahkan untuk diri saya sendiri: iman memang tidak logis. Ia tidak lahir untuk ditangani rasio sepenuhnya. Ia lahir untuk ditundukkan, bukan diperdebatkan. Dan anehnya, kesimpulan ini tidak membuat saya meninggalkan iman. Justru sebaliknya—saya berhenti mengganggunya dengan pisau bedah logika yang salah fungsi.

Saya bertahan bukan karena yakin sepenuhnya, tapi karena saya ingin batin saya cukup tenang.

Dan di situ kritik kecil saya muncul: mungkin semua orang beriman—apa pun bentuk dan sebutannya—sedang melakukan hal yang sama. Mencari ketenangan batin. Bukan memenangkan debat. Bukan menguasai kebenaran absolut. Tapi sekadar bisa tidur tanpa dada sesak.

Kalau begitu, untuk apa saling mengusili?

Mengapa iman orang lain harus diuji dengan standar logika saya, sementara iman saya sendiri lolos karena saya butuh damai?

Saya keluar dari dunia debat itu tanpa selebrasi. Tidak merasa kalah. Tidak juga menang. Saya hanya sadar satu hal: iman yang dipaksa rasional sering berubah jadi senjata. Dan batin yang ingin tenang tidak butuh senjata, ia butuh ruang.

Kesimpulan saya hari ini, sambil tersenyum agak nakal pada diri sendiri:
iman tidak harus masuk akal, tapi jangan sampai membuat saya kehilangan akal sehat.

Dan kalau iman saya sudah cukup membuat saya tenang, barangkali tugas saya selesai—tanpa perlu mengganggu ketenangan iman orang lain.

You May Also Like

0 komentar