Menuju Empat Puluh, dan Tiba-tiba Saya Tidak Takut Masuk Sel
Saya mendekati usia empat puluh, dan ini bukan angka yang menakutkan.
Yang menakutkan justru kenyataan bahwa saya sudah terlalu lama hidup enak. Terlalu aman. Terlalu rapi. Terlalu dilindungi oleh kenyamanan yang membuat mulut ingin diam, dan kepala ingin pura-pura tidak tahu.
Saya tidak miskin pengalaman hidup.
Saya sudah mencicipi cukup banyak kenikmatan: hidup yang stabil, tawa yang tidak dipaksakan, dan hari-hari yang berjalan tanpa ancaman nyata. Mungkin karena itu, belakangan ini saya jadi kurang sabar melihat kebodohan yang dipelihara rapi, dan pembodohan yang dijual massal dengan kemasan moral.
Lucunya, saya tidak marah.
Saya lebih ke lelah.
Lelah melihat orang pintar berpura-pura bodoh demi posisi.
Lelah melihat orang bodoh diangkat jadi panutan karena berisik.
Lelah melihat kebenaran dipelintir, lalu disuruh antre untuk minta izin bicara.
Di titik tertentu, saya mendapati diri sendiri berpikir dengan tenang tapi agak nakal:
kalau harus masuk penjara karena mengatakan kebenaran, rasanya saya sudah cukup siap.
Bukan karena saya pahlawan.
Bukan juga karena saya sok suci.
Tapi karena hidup sambil menelan kebodohan terasa jauh lebih menyiksa daripada tidur di sel sempit dengan pikiran yang tidak berkhianat pada dirinya sendiri.
Saya sadar betul, ini pikiran yang berbahaya.
Orang seusia saya seharusnya makin pragmatis, bukan makin idealis.
Seharusnya mikir pensiun, bukan risiko.
Seharusnya jaga nama baik, bukan ribut soal prinsip.
Tapi mungkin justru karena umur, saya jadi malas pura-pura.
Ego sudah capek berdandan.
Topeng sudah berat.
Dan hidup terlalu singkat untuk terus mengangguk pada hal yang jelas-jelas tidak masuk akal.
Saya tidak sedang mencari masalah.
Saya hanya mulai alergi pada kebisuan yang dibungkus kebijaksanaan palsu.
Saya tahu, mengatakan kebenaran tidak selalu mulia.
Kadang ia hanya bodoh secara strategis.
Tapi menahan kebenaran demi kenyamanan juga bukan kebijaksanaan—itu transaksi batin yang pelan-pelan menggerogoti harga diri.
Kesimpulan saya sederhana, dan tidak heroik sama sekali:
hidup nikmat itu penting,
tapi hidup dengan pikiran yang tidak muntah setiap hari jauh lebih penting.
Kalau suatu hari saya harus membayar harga karena tidak ikut membodohi atau dibodohi, saya berharap saya masih bisa berkata ke diri sendiri dengan tenang:
“Saya tidak cari sel.
Saya cuma sudah terlalu lelah untuk terus berpura-pura buta.”
0 komentar