Filsafat Ceker Ayam dan Jurus Lemas Melawan Dada Reheated

by - 3:00 PM

Saya sedang makan ayam.

Bukan bagian yang sering dipamerkan di iklan—bukan dada mulus atau paha berotot. Saya makan ceker, batok kepala, usus. Bagian-bagian yang dari dulu setia menemani hidup, tidak pernah bolak-balik keluar masuk kulkas.

Dada dan paha?
Ah, itu lain cerita.
Mereka terlalu sering dihangatkan, diabaikan, dimasukkan lagi ke kulkas, lalu dilupakan. Akhirnya jatuh juga ke piring saya—bukan sebagai pilihan, tapi sebagai kewajiban moral menyelamatkan makanan. Rasanya aneh. Tidak segar. Dan yang paling menyakitkan: ini bukan bagian favorit saya.

Di titik itu saya sadar, ini bukan lagi soal makan.
Ini soal identitas.

Saya dibesarkan oleh ceker dan kepala ayam. Jangan paksa saya berpura-pura bahagia dengan dada reheated.

Dan di situlah ibu saya masuk, tanpa sadar, sebagai filsuf rumah tangga paling konsisten yang pernah saya kenal. Ia tidak mengajarkan makan. Ia membangun dunia.

“Biar kamu jadi kepala.”
“Biar kaki kamu kuat menapaki hidup.”
“Biar kamu ngerti labirin kehidupan.”

Semua itu keluar bukan dari kitab filsafat, tapi dari dapur. Dari panci. Dari realitas yang tidak menyediakan banyak pilihan. Pondasinya sederhana dan kejam sekaligus jujur: ini yang ada, makan.

Tidak ada negosiasi. Tidak ada seminar motivasi. Tidak ada opsi “aku lagi tidak mood”. Dari situ saya belajar satu hal lebih cepat dari banyak orang: makna sering lahir dari keterpaksaan kecil yang diulang-ulang sampai jadi watak.

Mungkin itu sebabnya saya jadi tertarik pada ujar-ujaran. Idiom. Kalimat sakti. Saya curiga pada kata-kata yang terlihat sederhana tapi menyimpan lapisan. Karena sejak kecil, realitas memang begitu: absurd di luar, dalam di dalam.

Ibu saya sampai hari ini masih menempel ayat-ayat di pintu. Dicetak rapi, ditempel dengan keyakinan penuh—penangkal ghaib, pemanggil rezeki, penenang batin. Ia membagikannya pada saya, meminta ditempel di rumah. Saya menerimanya dengan khidmat. Tidak saya tempel. Tapi juga tidak saya buang.

Saya menghormatinya dengan cara saya sendiri: disimpan, bukan dipamerkan. Bukan pembangkangan. Evolusi cara percaya.

Lalu datanglah guru lain dalam hidup saya: cersil Kho Ping Hoo. Adegan bak-bik-buk, jurus silat, darah muncrat—tapi batin saya menangkap sesuatu yang lain. Yang keras kalah oleh yang lemas. Yang gegabah cepat tumbang. Yang bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang paling sabar membaca situasi.

Oke. Noted.

Dan pelan-pelan saya paham, benang merahnya rapi sekali. Dari ceker ayam. Ke jurus lemas. Ke cara saya membaca manusia. Ke cara saya menulis. Ke cara saya hidup tanpa terlalu sibuk membuktikan apa pun.

Ibu saya mungkin tidak pernah menyebut kata “filosofi”. Ia hanya akan bilang, “Ya makan aja dulu.”
Dan benar saja.
Saya makan. Saya kenyang. Saya hidup.
Dan bertahun-tahun kemudian, saya baru sadar: saya sedang diajar berpikir.

Dada dan paha itu tidak salah.
Mereka hanya lahir di keluarga makna yang salah.

Dan saya?
Saya tetap setia pada ceker.
Karena dari sanalah saya belajar: hidup tidak harus tampak ideal untuk bisa terasa masuk akal.

You May Also Like

0 komentar