Saya Cuma Jual Daster, Tapi Kok Malah Jadi Tempat Curhat Nasional

by - 6:00 PM

Saya lagi live jualan daster.

Rutinitas biasa. Senyum standar. Nada suara aman. Otak fokus ke stok, warna, dan ukuran.

Lalu masuk satu komentar. Pendek. Kering. Tanpa basa-basi.

“BB 90 bumil bang.”

Titik.
Tidak ada emoji.
Tidak ada halo.
Tidak ada “muat nggak?”

Di kepala saya, visual langsung terbentuk: bumil, badan berisi. Oke. Data diterima.

Di ujung lidah, sebenarnya ada kalimat lain yang hampir keluar. Tapi untung masih punya rem tangan batin. Yang keluar malah kalimat paling aman sedunia:

“Oh, untuk bumil ya kak? Semoga lancar persalinannya, kak. Ibu dan dedek bayinya sehat ya. Ini kak, saya ada dua etalase, lengan pendek dan lengan panjang.”

Selesai. Harusnya selesai.

Tapi hidup jarang mau sesederhana itu.

Ia membalas panjang. Penuh. Mengalir.

“Aamiin ya robbal ‘alamin… Makasih bang… Do’a abang tuh kerasa tulus banget… Nggak kayak suami saya…”

Dan di situ batin saya menjerit pelan:

Waduh. Salah ngomong gua. Ini cuma lip service dagang, bukan ceramah subuh.

Saya cuma jual kain, Mbak.
Bukan buka praktik konseling rumah tangga.

Tapi ya sudah. Saya tahan diri. Tidak melebar. Tidak sok bijak. Saya balas satu kalimat lagi, netral tapi hangat:

“Kakaknya kuat. Insya Allah dedek bayinya selamat dan sehat ya.”

Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi di ujung sana.
Saya tidak tahu latar hidupnya.
Saya tidak tahu kenapa satu kalimat doa dari orang asing bisa terasa lebih “nyampe” daripada kata-kata dari suaminya sendiri.

Yang saya tahu cuma satu:
Dia langsung checkout.
Tanpa tanya harga.
Dan bilang terima kasih. Katanya, dadanya agak ringan.

Secara logika ekonomi, ini aneh.
Secara etika bisnis, ini wilayah abu-abu.
Menyentuh psikologi manusia untuk kapitalisasi? Hmm. Tidak niat. Tidak dirancang. Tidak direncanakan.

Dan justru itu yang bikin saya gelisah.

Kenapa sering sekali emak-emak random datang ke lapak jualan dengan beban hidup di punggung? Kenapa sedikit saja dipantik—bukan dengan solusi, cuma dengan pengakuan eksistensi—langsung bocor?

Saya ini lagi jualan daster, Mak.
Bukan buka sesi “apa kabar batin hari ini”.

Tapi mungkin di situlah jawabannya.
Di dunia yang terlalu sibuk memberi nasihat, manusia kekurangan satu hal sederhana: didengar tanpa dihakimi, disapa tanpa agenda, didoakan tanpa syarat.

Saya tidak sedang menjadi orang baik.
Saya juga tidak sedang menyelamatkan siapa pun.
Saya hanya tidak jadi orang bebal di satu momen kecil.

Dan ternyata, bagi sebagian orang, itu sudah cukup besar.

Kesimpulannya, yang bikin saya mikir bukan soal closing tanpa tanya harga. Tapi ini: betapa rapuh dan hausnya manusia di balik akun random. Dan betapa tipis jarak antara transaksi dan pertemuan batin—selama kita tidak terlalu sibuk menjual, atau terlalu sok menyelamatkan.

Besok saya tetap jualan kain.
Tetap daster.
Tetap live.

Tapi mungkin dengan satu kesadaran baru:
kadang yang orang beli bukan bajunya,
tapi rasa diakui sebagai manusia—
meski cuma lewat satu kalimat basa-basi yang kebetulan jatuh di waktu yang tepat.

Dan ya…
tetap, plis…
ini abang lagi jualan kain, maaaak. 😮‍💨

You May Also Like

0 komentar