Konsisten Sejak Saya Bisa Mengingat

by - 12:00 PM

Sejak kecil, saya tidak pernah benar-benar hidup dalam kebingungan total. Saya bingung, iya. Tapi bingung yang ingat. Bukan bingung yang lupa.

Saya ingat pertama kali melihat orang dewasa melakukan olah syahwat. Bukan trauma besar, bukan juga rasa ingin meniru. Yang muncul justru kebingungan sederhana: oh, ini yang bikin punya anak. Titik. Tidak ada glorifikasi, tidak ada romantisasi. Hanya sebab–akibat yang dicatat kepala kecil saya, lalu disimpan tanpa tahu mau dipakai kapan.

Saya tumbuh dengan pola yang sama.
Saat bekerja di tempat yang menurut saya munafik—ucapannya integritas, praktiknya manipulasi—batin saya menolak. Bukan karena saya paling suci, tapi karena tubuh saya bereaksi lebih cepat dari logika. Saya bisa mengerjakan tugasnya, bahkan dengan sangat rapi. Tapi setiap tanda tangan palsu, setiap kalimat moral yang keluar dari mulut yang tidak bermoral, membuat dada saya kosong. Saya pergi bukan karena kalah, tapi karena tidak sanggup pura-pura.

Hubungan saya dengan Tuhan juga konsisten dalam kejujurannya.
Saya benci Tuhan dan neraka—bukan karena saya jahat, tapi karena keduanya dipakai sebagai depresan instan. Wudhu kurang sempurna saja ancamannya neraka. Shalat meleset sedikit, hukumannya kosmik. Saya lelah hidup dalam ketakutan atas kesalahan kecil yang bahkan tidak dijelaskan dengan welas.

Saya takut hantu.
Tapi semakin saya jujur, saya sadar: bukan hantunya. Yang saya takuti adalah suasananya—gelap, sunyi, tidak pasti. Maka saya memilih menertawakannya. Saya mengubah horor menjadi absurd. Hantu saya pindahkan ke washtafel, hidup berdampingan dengan lemak sabun dan sisa cabe. Dan entah kenapa, sejak itu, ketakutan kehilangan giginya.

Dalam memilih pasangan hidup pun saya konsisten.
Saya tidak memilih istri karena cinta buta, dorongan seksual, atau kemolekan tubuh. Saya memilih karena ada rasa cinta yang tidak ribut, tidak dramatis, tidak minta dipertontonkan. Cinta yang tenang. Cinta yang tidak perlu pembuktian. Dan sampai hari ini, saya masih percaya itu keputusan paling waras yang pernah saya ambil.

Sekarang saya berada di titik krusial.
Saya ingin mendekat kepada Tuhan lagi. Tapi bukan sebagai anak kecil yang gemetar. Bukan sebagai tawanan neraka. Dan bukan sebagai pemburu surga.

Saya ingin datang sebagai manusia dewasa.
Tanpa gentar.
Tanpa imbalan.
Tanpa ancaman.

Hanya ingin batin tenang saat menuju cahaya-Nya.

Jika dulu saya shalat karena takut, kini saya shalat karena butuh.
Jika suatu hari saya diam, itu bukan pemberontakan—itu jeda.
Saya tidak meninggalkan iman. Saya sedang merapikannya agar ajeg dengan batin saya sendiri.

Dan saat saya menengok ke belakang, saya tersenyum kecil.
Ternyata dari dulu sampai sekarang, saya tidak berubah arah.
Saya hanya berjalan lebih jujur.

Pelan.
Tenang.
Dan masih hidup.

You May Also Like

0 komentar