Wajah Manusia dan Tampilan Blog
Wajah manusia itu mirip tampilan blog.
Dari luar cukup nyaman dipandang. Rapi. Fungsional. Bisa diklik—eh, disapa.
Tapi begitu masuk ke dalamnya, kadang aku ingin bertanya pelan-pelan:
“Ini bahasanya kok begini?”
Ada bahasa yang masih bisa dipelajari orang awam.
HTML, misalnya. Katanya sih paling “sampah” menurut para programmer handal.
Tidak canggih. Tidak sakti. Tidak pintar.
Tapi anehnya, dengannya blogku jadi rapi.
Strukturnya jelas. Judulnya tidak teriak. Menu tidak saling dorong.
Pembaca masih bisa bernapas di sela waktu.
Lalu ada bahasa-bahasa lain.
Yang rasanya sudah bukan lagi bahasa manusia.
Lebih mirip bahasa kosmik alien.
Penuh simbol, logika berlapis, dan aturan tak tertulis.
Aku tidak bilang itu salah.
Aku hanya merasa… belum saatnya masuk ke sana.
Seperti manusia juga.
Ada orang yang dari luar tampak sederhana.
Bahasanya biasa. Tidak mengesankan.
Tapi hidup di dekatnya terasa ramah. Tidak melelahkan.
Ada pula yang dari luar memesona.
Strukturnya kompleks. Pintar. Cepat.
Tapi berada terlalu lama di dekatnya membuat batin kehabisan baterai.
Bug, ternyata, tidak hanya ada di kode.
Di wajah manusia pun ada.
Bocornya halus. Lewat nada suara. Lewat jeda. Lewat senyum yang terlalu dipaksakan.
Aku belajar dari HTML satu hal penting:
tidak semua yang diremehkan itu tidak berguna.
Yang penting bukan seberapa canggih bahasanya,
tapi apakah antarmukanya ramah.
Apakah orang yang datang tidak langsung ingin pergi.
Tidak apa-apa pakai HTML.
Tidak apa-apa tidak terlihat pintar.
Selama yang hadir masih bisa dibaca,
masih bisa dipahami,
dan masih memberi ruang untuk bernapas.
Blogku rapi.
Dan untuk saat ini,
itu sudah cukup.
0 komentar