Pamali: Kata Ajaib yang Mematikan Percakapan

by - 12:00 PM

Aku ingin bicara pelan pada diriku sendiri.

Bukan untuk mengungkit luka, tapi untuk memberinya nama yang tepat.

Dulu kepalaku kecil, tapi riuh.
Terlalu riuh untuk ukuran seorang anak.

Cepat tidur, nanti ada hantu.
Sekolah keras, kata-kata kasar, tangan ikut bicara.
Bertanya dianggap kurang ajar.
Dan ketika logika mulai mencoba berdiri, datang satu kata pamungkas:

Pamali.

Pamali bukan penjelasan.
Pamali adalah penutup percakapan.

Saat hantu mulai kehilangan daya—karena lima tahun berlalu tanpa satu pun menampakkan diri—pamali naik level.
Bukan lagi soal takut, tapi soal ancaman absolut.

Neraka.

Bukan neraka sebagai konsep iman yang dalam dan agung.
Tapi neraka versi cepat saji:
dipakai untuk anak yang tidak mau tidur.
Untuk anak yang bertanya.
Untuk anak yang lelah.

Aku tidak takut pamali.
Aku takut neraka.

Visualnya ditanamkan terlalu dini, terlalu kasar.
Dicetak jelas lewat cerita, lewat komik, lewat imajinasi yang belum punya pagar.
Lidah dicabut.
Tubuh disiksa.
Logam panas disiramkan.

Semua itu untuk apa?
Untuk tidur.

Di titik itu aku bertanya pelan—dan ini pertanyaan paling manusiawi yang bisa diajukan seorang anak:

“Memang tidak bisa ya… kalau mau tidur itu dipeluk? Atau didoakan?”

Ada jeda.
Mungkin ada kesadaran.
Mungkin ada lelah yang lebih dulu menang.

Yang keluar tetap sama:

Pamali.

Dan di situlah aku belajar sesuatu yang keliru:
bahwa logika harus mati supaya aman.
Bahwa patuh lebih penting daripada paham.
Bahwa iman boleh dipakai sebagai alat menekan, bukan menenangkan.

Aku tidak menyalahkan orang tuaku.
Aku tahu mereka lelah.
Aku tahu mereka juga dibesarkan dengan cara yang sama.
Mereka tidak sedang jahat—mereka kehabisan energi dan bahasa.

Pamali itu bukan warisan kebijaksanaan.
Pamali sering kali hanyalah kelelahan yang tidak sempat dijelaskan.

Masalahnya bukan pada kata pamali itu sendiri.
Masalahnya pada penggunaannya yang absolut.

Karena ketika semua hal dijawab dengan pamali,
anak tidak belajar makna,
tidak belajar sebab-akibat,
tidak belajar membedakan mana nilai, mana kontrol.

Yang tertinggal hanya takut.
Takut yang tidak tahu harus ditujukan ke mana.

Dan aku baru sadar sekarang:
aku tidak sedang melawan iman.
Aku sedang memisahkan iman dari teror.

Aku tetap percaya neraka sebagai bagian dari keyakinan.
Tapi aku menolak neraka dijadikan rotan metafisik.

Aku menolak iman dipakai untuk membungkam anak yang hanya ingin dimengerti.

Hari ini, aku bicara pada batinku sendiri:

Pamali bukan kebenaran mutlak.
Pamali sering hanya kata ajaib untuk mengakhiri percakapan.

Dan aku tidak lagi ingin hidup dengan lampu yang dimatikan bersamaan dengan logika.

Kalau hari ini aku memilih memeluk sebelum menyuruh tidur,
itu bukan karena aku manja.
Tapi karena aku tahu:
takut tidak pernah membuat seseorang tumbuh dengan utuh.

Dan dengan memahami itu,
aku tidak sedang menyalahkan masa lalu—
aku sedang mengakhiri siklusnya.

Satu napas.
Selesai.

You May Also Like

0 komentar