Tertawa di Berita, Curiga di Kabar Baik
Saya mulai curiga pada diri sendiri. Bukan curiga yang heroik, tapi yang pelan dan agak licik. Curiga karena belakangan ini saya menikmati membaca berita tentang pejabat dan kebijakan bodohnya. Menikmati, bukan sekadar tahu. Ada rasa puas kecil, seperti menonton orang terpeleset—tidak ingin ia celaka, tapi juga tidak bisa menahan senyum.
Awalnya saya membela diri: ini bentuk kewaspadaan warga negara. Tapi lama-lama saya jujur. Ada stigma yang saya rawat diam-diam: pejabat memang bodoh, dan berita idealnya menelanjangi kebodohan itu. Kalau bisa, sekalian telanjang bulat. Tanpa sensor.
Yang lebih mengkhawatirkan, refleks saya jadi otomatis. Begitu media memberitakan kebijakan baik, alis saya naik. Bukan kagum, tapi curiga. “Ini konten pesanan,” batin saya menyela cepat. “Media tidak netral.” Saya bahkan tidak membaca sampai tuntas. Kecurigaan sudah kenyang lebih dulu.
Lucunya, saya tidak agresif. Saya tidak ikut perang komentar. Tidak mengutip data setengah matang. Saya hanya menekan satu emote tertawa. Kecil. Ringan. Seolah tidak berdampak. Tapi saya tahu, tawa itu bukan netral. Ia adalah tanda persetujuan sunyi pada sinisme kolektif.
Di titik ini, saya merasa sedang berdiri di wilayah abu-abu yang berbahaya. Di satu sisi, skeptis pada kekuasaan itu sehat. Di sisi lain, ketika saya hanya mau percaya pada berita buruk dan alergi pada kabar baik, saya tidak lagi kritis—saya menjadi pemilih emosi.
Media, tentu saja, punya dosa. Tapi saya mulai bertanya: jangan-jangan saya juga sudah nyaman hidup di ekosistem marah. Kebijakan bodoh membuat saya merasa lebih pintar. Skandal memberi rasa unggul moral. Dan tawa kecil itu—emote receh itu—adalah cara saya ikut nimbrung tanpa harus bertanggung jawab.
Ironinya, saya sering mengeluh negeri ini lelah, penuh kecurigaan, dan sulit percaya. Tapi di saat yang sama, saya menyiram kecurigaan itu, setetes demi setetes, dengan tawa yang saya anggap tidak berbahaya.
Kesimpulan saya hari ini tidak heroik. Tidak juga menenangkan. Saya hanya mencatat pelan: mungkin masalahnya bukan hanya pejabat yang bodoh atau media yang bias, tapi juga saya—yang mulai betah hidup di dunia di mana kabar buruk terasa lebih jujur daripada kabar baik.
Dan itu, entah kenapa, terasa jauh lebih darurat daripada sekadar emote tertawa.
0 komentar