Saya Tidak Mengusir Murid, Saya Hanya Membuka Tirai

by - 6:50 AM

Pelarian saya yang paling memuaskan, ternyata bukan ketika daster laku.

Bukan ketika angka naik.
Bukan ketika live ramai.

Tapi ketika ada orang datang dengan mata berbinar dan kalimat klasik:
“Bang, saya mau belajar jualan daster.”

Di titik itu, batin saya selalu mengeluarkan dua pintu.

Pintu pertama sangat ramah, lurus, dan sopan.
Kalau orangnya ingin yang sederhana, saya jawab sejujur-jujurnya versi brosur hidup:
cari supplier, foto produk, pasang harga, jual.
Selesai.
Tidak ada filsafat. Tidak ada luka. Tidak ada eksistensial crisis.

Biasanya mereka mengangguk cepat. Senang.
Ini tipe yang ingin jualan seperti beli mie instan: air panas, tunggu, makan.

Tapi ada tipe kedua.
Yang bilang, “Bang, saya pengen beneran paham.”

Nah.
Di sinilah saya berhenti tersenyum sopan, lalu membuka pintu yang jarang dibuka orang.

Saya tidak mengajar.
Saya menumpahkan.

Saya ceritakan tumpang tindih emosi tiap hari.
Capeknya ngoceh sendirian di live.
Logika yang bolong tapi transaksi jalan.
Batin yang harus empuk padahal badan lelah.
Cara tetap lembut ke orang yang logikanya loncat-loncat.
Cara menelan absurd tanpa muntah sinis.

Saya ceritakan bahwa jualan ini bukan cuma urusan harga dan stok,
tapi soal menjadi wadah emosi manusia lain
yang bahkan tidak kamu kenal,
tidak kamu pahami,
dan tidak bisa kamu perbaiki.

Saya ceritakan bahwa nanti kamu akan teriak juga.
Bukan karena rugi.
Tapi karena bingung:
kok begini amat ya hidup orang-orang?

Dan hasilnya selalu konsisten.
Orang-orang yang sok iye—yang datang bukan untuk belajar, tapi untuk mengonfirmasi ego—
perlahan mundur.
Tidak pamit.
Tidak kembali.

Dalam hati saya cuma bilang:
Rasakan.

Bukan karena saya jahat.
Atau mungkin iya, sedikit.
Tapi ini bukan sadisme. Ini seleksi alam.

Karena realitas jualan memang begini.
Tidak instagramable.
Tidak heroik.
Tidak selalu rasional.

Dan kalau kamu belum siap menerima bahwa dagangan bisa laku bukan karena produkmu,
tapi karena batinmu kebetulan jadi tempat orang duduk sebentar,
maka kamu memang belum siap.

Saya tidak menolak murid.
Saya hanya memastikan:
yang tinggal adalah mereka yang sadar
bahwa jualan bukan sekadar cari uang,
tapi siap menjadi manusia yang cukup kuat untuk tidak kabur.

Kalau setelah itu kamu pergi,
tidak apa-apa.
Itu juga pelajaran.

Dan kalau kamu bertahan…
ya selamat datang di dunia yang sama melelahkannya dengan hidup.
Saya sudah teriak duluan.
Giliran kamu nanti.

You May Also Like

0 komentar