Tasawuf Menara Gading vs Tasawuf Daster: Medusa Lebih Jujur
Saya ini sinis. Iya, saya akui.
Sinis bukan karena merasa paling benar, tapi karena terlalu sering melihat kebenaran dipajang seperti piala lomba—dipoles, diangkat tinggi, lalu dipakai untuk menunjuk orang lain yang dianggap belum “naik level”.
Saya pernah duduk di kajian tasawuf. Saya suka ilmunya. Bahasannya halus, dalam, menenangkan. Ego dipreteli, dunia dianggap sementara, batin ditarik ke langit.
Masalahnya muncul di parkiran.
Begitu kajian selesai, banyak yang seperti baru turun dari menara gading. Jalannya ringan, bahasanya berat.
Nada kalimatnya berubah:
“Ah, itu masih duniawi.”
“Dia belum sampai.”
“Kamu keliru memahami.”
Lho.
Katanya tasawuf itu mematikan ego, kok egonya malah naik kelas?
Saya duduk, dengar, dan mulai merasa aneh.
Tasawuf kok rasanya menjauhkan manusia dari manusia.
Bukan makin lembut, tapi makin selektif.
Bukan makin membumi, tapi makin tinggi—tinggi sekali sampai lupa bau dapur, suara anak nangis, emak-emak judes, dan realitas yang tidak bisa disucikan hanya dengan wirid.
Di titik itu saya sadar:
Saya tidak cocok di menara gading.
Saya pusing di atas sana.
Anginnya dingin, tapi manusianya jauh.
Saya turun.
Bukan karena ilmunya salah, tapi karena penggunaannya belok.
Saya memilih tasawuf versi lain:
tasawuf menghadapi emak-emak random,
tasawuf menelan ego saat diserobot komentar,
tasawuf menahan lidah ketika pengen nyeletuk “plis mbok ya sabar”.
Di live daster, tidak ada istilah “kamu keliru”.
Yang ada:
“iya kak, saya bantu pelan-pelan ya.”
Di situ saya belajar:
menjinakkan ego jauh lebih susah daripada menghafal dalil.
Saya ketemu manusia yang oleh batin saya—jujur saja—kadang saya sebut Medusa, kadang mak lampir. Bukan karena mereka monster, tapi karena emosinya bisa membatu kalau saya salah langkah.
Dan lucunya, justru di situ saya belajar tasawuf yang tidak diajarkan di podium:
- sabar tanpa merasa suci,
- menunduk tanpa merasa rendah,
- dan diam tanpa merasa kalah.
Saya tidak butuh terlihat “sampai”.
Saya butuh tetap waras.
Kalau tasawuf membuat saya memutus relasi, merasa lebih benar, lebih tinggi, lebih hening tapi sendirian—saya mundur.
Kalau tasawuf membuat saya tetap jadi manusia, tetap bercanda, tetap kesel tapi tidak meledak—saya jalan.
Kesimpulan saya sederhana, dan mungkin agak kurang ajar:
Saya lebih percaya tasawuf yang diuji oleh emak-emak,
daripada tasawuf yang aman di ruang kajian.
Karena yang pertama mengikis ego pelan-pelan.
Yang kedua—kalau salah pakai—malah memoles ego sampai kinclong.
Dan kalau saya harus memilih:
saya pilih capek, bau keringat, tapi masih bisa ketawa,
daripada tenang di menara gading sambil sibuk menunjuk siapa yang belum tercerahkan.
Maaf kalau sinis.
Saya cuma sedang jujur.
0 komentar