Saya Cuma Mau Ngajak Ngobrol, Kok Jadi Upacara Kemanusiaan

by - 6:00 PM

Saya ini punya kebiasaan aneh: ngobrol dengan orang random. Bukan karena ramah luar biasa, bukan juga misi sosial. Lebih ke refleks batin yang kadang bocor tanpa izin. Dan tentu saja, kebiasaan absurd ini tidak pernah libur, termasuk di tanggal 1 awal tahun, saat taman komplek berubah jadi situs arkeologi sisa peradaban pesta.

Pagi itu taman terlihat seperti habis dilalui bangsa nomaden yang doyan sate dan kembang api. Bekas bakaran masih hitam legam, botol air mineral berceceran, bubuk kembang api menempel di tanah seperti abu dosa kolektif. Saya berdiri di sana sambil menemani anak main, dengan pikiran yang sangat logis dan ajeg: ah nanti juga ada petugas kebersihan, rapiin secukupnya, sisanya ya tugas mereka. Pikiran ini sah, rasional, dan diam-diam diamini banyak warga.

Lalu saya melihatnya.
Seorang ibu petugas kebersihan.
Menyapu pelan, sendiri, di tengah sisa euforia orang-orang yang sekarang masih tidur pulas atau rebahan sambil nyengir lihat status tahun baru.

Saya tidak tahu apa yang ada di kepalanya. Mungkin capek. Mungkin kesal. Mungkin ya sudah, ini kerjaan. Atau mungkin sedang menghitung jam sampai bisa duduk dan minum teh. Saya tidak tahu. Dan justru karena tidak tahu itu, saya mendekat.

Masalahnya, saya juga tidak tahu harus mulai dari mana.

Yang keluar malah kalimat setengah matang, setengah bercanda, setengah bodoh: “Bu, lagi panen ya hehehe… semangat ya bu, kalau capek istirahat dulu.”

Kalimat yang bahkan saya sendiri langsung menilai: kurang ajar dikit tapi niatnya baik.

Saya kira ibu itu akan senyum sopan lalu lanjut nyapu. Ternyata tidak. Ia berhenti. Menatap. Seolah baru ditarik keluar dari lamunan panjang. Dan tanpa ba-bi-bu, ia bicara.

Bukan curhat soal capek. Bukan keluhan soal sampah. Tapi kalimat yang bikin saya reflektif sambil malu tipis-tipis: “Iya pak, ini memang pekerjaan saya. Saya jalanin. Terima kasih ya pak… jarang ada warga yang nyapa tukang sapu. Saya kira di sini nggak ada yang kaya bapak.”

Nah kan.
Lagi-lagi kebiasaan saya bekerja terlalu jauh.

Saya cuma mau ngobrol iseng. Yang keluar malah seperti pengingat bahwa menyapa itu ternyata bukan hal remeh. Bahwa bagi sebagian orang, disadari keberadaannya saja sudah cukup bikin hari terasa lebih manusia.

Saya cuma mengangguk, senyum kaku, dan menutup dengan kalimat standar: “Semangat ya bu.”

Dalam hati saya menggerutu sendiri: Tuh kan. Ngapain sih kamu ngobrol random lagi. Tapi di sisi lain, ada rasa hangat kecil yang tidak bisa dijelaskan. Bukan heroik. Bukan merasa berjasa. Lebih ke rasa: oh, ternyata manusia masih bisa saling melihat.

Kritiknya sederhana, dan agak menampar:
kita sering terlalu sibuk merasionalisasi kekacauan—kan ada petugas—sampai lupa bahwa di balik seragam oranye itu ada manusia utuh, dengan pikiran, lelah, dan harga diri.

Dan kesimpulan saya hari itu juga sederhana, tanpa slogan muluk:
saya tidak sedang jadi orang baik. Saya cuma manusia yang refleks menyapa manusia lain. Kalau itu sekarang terasa istimewa, mungkin karena dunia memang lagi jarang berhenti untuk sekadar bilang, “saya lihat kamu.”

Dan ya… kebiasaan absurd ini sepertinya belum mau pensiun.

You May Also Like

0 komentar