Rumah Tangga Adem Itu Biasanya Cuma Wallpaper
Sering ada pasangan baru nikah datang dengan mata berbinar.
Nada suaranya pelan, sopan, penuh harap.
“Bang, gimana sih caranya rumah tangga bisa adem sampai 11 tahun? Kelihatan tenang, nggak ada drama.”
Saya tarik napas.
Duduk agak condong ke depan.
Mode begawan palsu saya aktifkan.
“Eh sini sini, bocah kemarin sore,”
kata saya dalam hati, sambil pasang wajah orang yang sudah melewati badai tapi lupa payung.
Yang kamu lihat adem itu…
wallpaper.
Iya.
Wallpaper rumah tangga.
Bagian yang rapi, terang, difoto pas pencahayaan bagus.
Yang dipajang di medsos, di kondangan, di obrolan arisan.
Padahal di balik wallpaper itu, instalasi listriknya semrawut, pipa bocor dikit, dan ada kabel yang kalau ketarik sedikit bisa bikin mati lampu se-RT.
Dalamnya?
Rumit.
Bukan rumit karena selingkuh, bukan juga karena drama ala sinetron.
Tapi rumit karena dua manusia utuh hidup bareng, lengkap dengan ego, lelah, salah paham, dan kemampuan ngomel yang kadang aktif tanpa sebab.
Dan percaya deh,
kerumitan itu tidak bisa dijelaskan bahkan oleh seorang Plato sekalipun.
Plato mungkin bisa jelasin bentuk ideal cinta.
Tapi dia pasti bingung waktu lihat pasangan berantem cuma gara-gara:
“Katanya belok kanan, kok ke kiri?”
Rumah tangga adem bukan karena nggak ada konflik.
Tapi karena dua-duanya sepakat:
nggak semua hal perlu dimenangkan,
nggak semua salah harus dibuktikan,
dan nggak semua perasaan harus diberi footnote.
Kadang, adem itu hasil dari:
satu orang salah ngomong,
satu orang salah paham,
dan satu orang lagi capek lalu bilang,
“Yaudah deh.”
Itu bukan kalah.
Itu bertahan hidup.
Jadi kalau ada yang bilang rumah tangga kami adem 11 tahun,
saya cuma senyum.
Bukan karena sombong.
Tapi karena tahu:
yang adem itu tampilannya,
yang bekerja keras itu kesabaran.
Dan kalau kamu tanya rahasianya apa?
Sederhana kok.
Berhenti mengejar adem.
Mulai belajar waras bareng.
Sisanya?
Biarlah tetap jadi wallpaper.
0 komentar