Kerja, Tolong Jangan Ikut Tidur

by - 12:00 AM

 Saya ini aneh.

Di siang hari saya mengeluh capek bekerja.
Di malam hari, saat tubuh akhirnya rebah dan otak diberi izin istirahat, kerjaan malah ikut nimbrung ke mimpi. Lengkap. Rapi. Kadang lebih produktif dari saya versi sadar.

Di titik itu saya ingin protes ke diri sendiri.
Plis lah, kerja. Kamu cukup di realitas saja. Jangan sampai masuk alam bawah sadar. Kita ini bukan tim, kamu itu kewajiban, bukan soulmate.

Rutinitas memang kejam tapi sopan.
Ia tidak memukul, hanya mengetuk setiap hari di jam yang sama.
Bangun, kerja. Pulang, capek. Tidur, mimpi kerja lagi.
Siklus ini tidak jahat, tapi konsisten. Dan justru di situ letak kelelahan paling licik.

Saya sadar, lelah saya bukan karena kerjaannya saja.
Tapi karena tidak ada jarak.

Kerja menyusup ke mimpi artinya batas sudah bocor.
Otak saya belum sempat menutup toko, lampunya masih nyala, kasirnya belum pulang. Bahkan saat tubuh sudah offline, pikiran masih lembur.

Saya ini ingin hidup normal:
kerja ya kerja,
tidur ya tidur,
mimpi ya mimpi absurd—jatuh dari tebing, ketemu mantan, atau tiba-tiba bisa terbang tanpa alasan.
Bukan mimpi deadline.

Di sisi lain, saya juga jujur pada diri sendiri:
rutinitas ini “harus” dijalani.
Ada tagihan yang tidak bisa diajak diskusi filsafat.
Ada tanggung jawab yang tidak peduli saya sedang kontemplasi atau eksistensial krisis.

Jadi saya tidak marah pada rutinitas.
Saya marah pada ketidakmampuan saya memberi jeda.

Lucunya, saya sering mengutuk rutinitas sambil bergantung padanya.
Saya ingin bebas, tapi takut kosong.
Saya ingin lepas, tapi butuh stabil.
Maka kerja masuk mimpi mungkin bukan karena terlalu keras, tapi karena terlalu dekat.

Kesimpulannya sederhana, dan agak menyebalkan:
yang saya butuhkan bukan libur panjang,
tapi jarak yang sehat.

Bukan berhenti bekerja,
tapi berhenti membawa kerja sampai kasur.

Karena kalau kerja sudah ikut tidur,
itu bukan lagi rutinitas—
itu namanya hubungan tidak sehat,
dan saya belum siap komitmen sejauh itu.

You May Also Like

0 komentar