Objektif Itu Menyebalkan (Karena Tidak Bisa Dipakai Marah)
Saya baru sadar, dan kesadarannya agak pahit:
orang yang berusaha objektif itu sering tidak disukai. Bukan karena salah, tapi karena tidak berguna bagi kemarahan siapa pun.
Saya menulis. Saya berdiri di tengah. Saya mencoba tidak berteriak.
Dan justru di situ masalahnya.
Pembenci—atau mungkin lebih sopan disebut pihak yang sudah memutuskan untuk marah—tidak butuh naskah yang seimbang. Mereka butuh amunisi. Nada. Kecaman. Kalimat yang bisa dicomot, dipelintir, lalu dijadikan pembenaran emosi.
Artikel saya tidak menyediakan itu.
Tidak ada tokoh antagonis tunggal.
Tidak ada api unggun untuk menghangatkan dendam kolektif.
Maka saya dicurigai.
“Netral itu berpihak,” kata mereka.
Padahal sering kali yang mereka maksud: netral itu tidak membantu saya melampiaskan amarah.
Saya jadi ingat analogi yang muncul tiba-tiba di kepala:
ini seperti memberi penerangan, tapi lampunya disorotkan langsung ke wajah. Bukan membantu melihat jalan, tapi bikin silau. Dan orang yang silau jarang berterima kasih pada lampu.
Objektivitas memang menyebalkan.
Ia tidak memeluk siapa pun.
Tidak memvalidasi emosi mentah.
Ia hanya berkata, “tunggu sebentar, mari kita lihat dari sudut lain.”
Masalahnya, tidak semua orang ingin melihat.
Sebagian hanya ingin memastikan bahwa mereka paling benar dalam keadaan paling marah.
Saya juga tidak sedang sok bijak. Saya paham rasanya ingin marah. Saya juga manusia.
Tapi saya menolak menjadikan tulisan sebagai pentungan. Saya tidak ingin kata-kata saya dipakai untuk memukul, lalu ditinggal begitu saja setelah emosi reda.
Di titik ini saya mengerti:
berdiri di tengah itu bukan posisi aman. Justru sering paling sepi. Kiri tidak menganggap saya cukup keras. Kanan tidak menganggap saya cukup loyal.
Tapi mungkin memang itu harga dari memilih berpikir pelan.
Kesimpulan saya tidak heroik. Tidak ada ajakan. Tidak ada slogan.
Saya hanya mencatat ini untuk diri sendiri:
jika tulisan saya dibenci karena tidak ikut marah, mungkin saya sedang melakukan sesuatu yang benar—atau setidaknya jujur.
Dan kalau lampu saya membuat silau, saya tidak perlu mematikannya.
Saya hanya perlu mengarahkannya ke jalan.
Siapa pun yang mau melihat, silakan.
Yang ingin marah, toh tidak butuh cahaya.
0 komentar