Lima Juta Tahun Lalu, Kata Siapa? (Saya, Fosil, dan Kecurigaan yang Sah)

by - 3:00 PM

Saya duduk sambil mikir pelan, agak sinis, tapi jujur.

Saya ingin paham: kok ilmuwan bisa bilang ini fosil umur lima juta tahun, itu batu seratus juta tahun?
Siapa yang nyatet?
Siapa yang lihat?
Apa jangan-jangan ini cuma karangan yang disepakati rame-rame?

Pertanyaan itu muncul bukan karena saya anti-ilmu. Justru sebaliknya. Saya curiga karena saya hormat. Kalau sesuatu disebut ilmu, mestinya bisa ditanya tanpa harus dituduh bodoh atau kurang iman.

Masalahnya begini:
angka-angka itu terlalu jauh dari pengalaman manusia.
Seratus juta tahun tidak punya bau, rasa, atau memori.
Otak saya—yang terbiasa ngitung cicilan bulanan dan umur kompor—langsung refleks:
“Ini kira-kira apa bener, atau cuma elegan?”

Lalu saya sadar, mungkin masalahnya bukan pada ilmunya, tapi pada cara ia disampaikan.
Ilmuwan sering bicara seolah semua orang nyaman dengan kata: isotop, peluruhan, stratigrafi, radiometrik.
Sementara saya masih bertanya:
“Lah, batu kan batu. Kok tau usianya?”

Di titik ini, sisi nakal saya muncul.
Saya membayangkan ilmuwan itu seperti tukang jam super sabar.
Dia tidak melihat jamnya berdetak, tapi melihat pegasnya aus.
Bukan menebak, tapi membandingkan pola rusaknya.

Pelan-pelan saya paham:
mereka tidak mengklaim “melihat” masa lalu.
Mereka membaca jejak.
Seperti saya membaca usia hidup saya bukan dari akta lahir saja, tapi dari:

  • rambut yang mulai kompromi dengan uban
  • lutut yang bunyinya beda saat naik tangga
  • dan emosi yang makin malas debat tidak penting

Ilmuwan membaca bumi dengan cara yang sama, hanya skalanya keterlaluan besar.

Lapisan tanah itu seperti arsip.
Yang di bawah lebih tua karena ketimpa lebih dulu.
Fosil tidak berdiri sendiri, ia punya tetangga: batu, abu vulkanik, unsur kimia yang berubah pelan tapi konsisten.
Bukan karangan, tapi perkiraan berbasis kesepakatan metode.

Nah, di sini kritik saya tetap hidup:
ilmu sering lupa bilang satu hal penting—
bahwa angka-angka itu bukan kebenaran mutlak, tapi estimasi paling masuk akal saat ini.

Ilmu tidak sedang berkata: “Ini pasti.”
Ilmu berkata: “Dengan alat dan pengetahuan sekarang, ini yang paling jujur.”

Dan mungkin, justru itu yang bikin saya tenang.

Karena ternyata, ilmuwan tidak sok tahu.
Mereka justru rajin ragu, tapi ragu yang disiplin.
Ragu yang diukur, diuji, dan direvisi kalau salah.

Jadi ketika saya bertanya:
“Ini karangan atau metodenya terlalu rumit?”

Jawaban jujurnya mungkin begini:
bukan karangan, tapi memang tidak semua hal dirancang untuk terasa intuitif.

Seperti cinta matang, iman dewasa, atau kesabaran menghadapi emak-emak random—
tidak instan dipahami, tapi masuk akal kalau dijalani pelan.

Kesimpulan saya sederhana, versi batin yang sudah capek debat:
Saya boleh tidak paham detailnya.
Saya boleh curiga.
Tapi saya tidak perlu merendahkan.

Ilmu bukan dongeng.
Ia hanya cerita panjang yang ditulis dengan angka,
dan dibaca oleh orang-orang yang sabar menunggu jutaan tahun…
sementara saya baru kuat nunggu diskon tengah malam.

You May Also Like

0 komentar