Pak, Ini Ditanya atau Diimani? Tentang Penentuan Usia Fosil

by - 6:00 PM

Saya baru ngeh, ternyata pertanyaan usil saya itu bukan barang baru.

Ia sudah nongkrong lama di kepala, sejak SMP.

Waktu itu guru IPA berdiri dengan penuh wibawa. Spidol mantap, papan tulis penuh garis zaman. Jutaan tahun lalu, ratusan juta tahun lalu—angka-angka besar meluncur tanpa ragu. Saya duduk, manggut-manggut, sampai sesi tanya jawab dibuka. Entah kenapa, tangan saya naik.

“Pak, bagaimana cara mengetahui fosil ini dari jutaan tahun yang lalu?”

Saya ingat betul jedanya.
Bukan jeda berpikir yang produktif, tapi jeda canggung.
Lalu jawabannya datang, singkat dan menenangkan—bukan saya, tapi sistem.

“Sudah, pahami di situ dulu saja. Di ujian tidak akan ditanya metodenya.”

Baik, Pak.

Kalimat itu rapi. Efisien. Menyelesaikan masalah.
Dan sukses menutup satu pintu kecil bernama rasa ingin tahu.

Baru sekarang saya sadar, pola itu familier sekali.
Mirip saat bertanya hal sensitif di ruang agama.

“Kenapa begini?”
“Bagaimana prosesnya?”
“Apa logikanya?”

Jawaban seringnya sama, hanya ganti kostum:

“Sudah, terima saja.”
“Tidak usah terlalu jauh.”
“Iman itu bukan untuk dipertanyakan.”

Saya tidak menyalahkan guru saya. Sungguh.
Mungkin beliau lelah.
Mungkin kurikulum tidak memberi ruang.
Mungkin kelas itu bukan tempat aman untuk pertanyaan yang kepanjangan napas.

Tapi dampaknya nyata:
saya tumbuh jadi anak yang belajar apa yang harus dihafal, bukan apa yang boleh ditanya.

Lucunya, pertanyaan itu tidak mati.
Ia hanya disimpan.
Dimasukkan ke laci batin, dikunci rapi, sambil menunggu waktu yang lebih ramah.

Dan sekarang, puluhan tahun kemudian, saya membukanya lagi sambil ketawa kecil.
“Oh… pantesan saya sering alergi sama kalimat ‘pokoknya’.”

Saya tidak marah.
Saya juga tidak merasa paling kritis.
Saya hanya sadar satu hal:
banyak hal di hidup ini diajarkan seperti paket jadi—tinggal terima, jangan dibongkar.

Padahal, bertanya bukan bentuk pembangkangan.
Kadang itu cuma tanda:
saya lagi nyoba beneran ngerti.

Kesimpulan versi saya, yang sudah lebih santai menghadapi dunia:

Ada ilmu yang diajarkan untuk lulus ujian.
Ada iman yang ditawarkan untuk ditenangkan.
Tapi rasa ingin tahu?
Ia tidak cocok dipaksa diam.

Ia akan balik.
Entah jam dua pagi,
entah sambil jualan daster,
atau sambil ketawa kecil mengingat guru IPA yang dulu bilang:

“Tidak akan keluar di ujian.”

Ternyata benar, Pak.
Tidak keluar di ujian.
Tapi keluar pelan-pelan…
di hidup.

You May Also Like

0 komentar