Negeri Ini Bukan Salah Pemimpinnya, Tapi Salah Tetangganya

by - 12:00 PM

Saya duduk sambil mikir, agak lama, dan akhirnya sampai pada kesimpulan yang bikin dahi saya panas sendiri. Mungkin kita ini bukan sial karena dapat pemimpin buruk. Kita sial karena dapat saudara sebangsa yang—maaf—buruk juga. Mereka menang jumlah. Mereka yang ramai-ramai datang ke bilik suara dengan logika yang bisa dibelokkan pakai uang receh dan kaos kampanye yang bahkan kalau dipakai buat lap kompor pun tidak bersih.

Saya tahu ini terdengar kejam. Tapi setiap kali ada kebijakan tolol, saya refleks marah ke atas: ke presiden, menteri, pejabat. Lalu saya berhenti sebentar. Tunggu. Mereka ini datang dari mana? Turun dari langit? Tidak. Mereka diantar oleh jutaan tangan, dipilih oleh jutaan kepala, dan disahkan oleh jutaan “ya sudahlah”.

Di titik ini saya mulai merasa geli dan muak sekaligus. Kita gemar mengutuk elit, tapi lupa bercermin. Kita mengutuk korupsi, tapi menoleransi politik recehan. Kita teriak “pemimpin bodoh!”, sambil lupa bahwa bodoh itu bisa berjamaah, bisa antre rapi, dan sah secara demokratis.

Yang paling ironis, kita suka menyebut diri “rakyat kecil” seolah itu kartu bebas kritik. Padahal kebodohan tidak pernah peduli ukuran dompet. Bodoh bisa miskin, bisa kaya, bisa religius, bisa nasionalis. Bodoh itu cuma satu cirinya: malas berpikir panjang.

Saya jadi sadar, mungkin yang membuat negeri ini stagnan bukan karena satu orang di kursi tinggi, tapi karena terlalu banyak orang di kursi plastik yang memilih asal. Kaos kampanye dipakai bangga, uang receh dibelanjakan habis, lalu lima tahun berikutnya mengeluh sambil ngopi.

Di sini saya mulai menertawakan diri sendiri. Karena saya juga hidup di tengah mereka. Makan nasi yang sama, marah dengan bahasa yang sama, dan kadang—ini yang memalukan—ikut lelah berpikir. Lebih mudah menyalahkan “pemimpin bego” daripada mengakui bahwa kita hidup berdampingan dengan kebegoan yang terstruktur.

Kesimpulan saya hari ini sederhana dan agak sinis: demokrasi itu tidak pernah salah. Yang sering salah adalah manusianya. Dan selama kita masih menganggap memilih pemimpin itu seperti memilih sabun cuci—yang penting gratisannya banyak—jangan heran kalau dapurnya tetap kotor.

Saya menutup pikiran ini dengan napas panjang. Bukan untuk jadi suci. Hanya untuk mengingatkan diri sendiri: sebelum mengutuk pemimpin, mungkin saya perlu lebih sabar menghadapi tetangga sebangsa. Karena ternyata, merekalah faktor risiko terbesar yang tidak pernah masuk berita.

You May Also Like

0 komentar