Manual Praktis: Cara Membenci dan Mencintai Tanpa Perlu Tulus
Saya lama-lama sadar, manusia itu kreatif luar biasa—terutama saat sedang ingin menyudutkan atau mengagungkan seseorang.
Orang yang membenci tidak pernah kehabisan cara untuk menemukan salah. Yang cinta juga sama rajinnya, hanya saja arah matanya dibelokkan: semua terlihat indah, bahkan yang sebetulnya biasa saja. Menariknya, dua-duanya sering bekerja dengan prinsip yang sama: apa untungnya buat saya.
Saya sering berpikir, ini bukan soal benci atau cinta. Ini soal transaksi emosional.
Kalau membenci memberi panggung, saya akan membenci dengan penuh dedikasi.
Kalau memuji membuka pintu, saya bisa jadi penyair dadakan.
Hari ini seseorang dicap brengsek karena satu kesalahan. Besok, dengan data yang sama, ia dipuja karena dianggap “jujur apa adanya”. Narasinya bisa dibongkar-pasang seperti etalase. Tinggal sesuaikan target pasar.
Yang bikin saya geli bukan dramanya, tapi keyakinan moral di baliknya. Semua merasa sedang berdiri di sisi yang benar. Padahal sering kali yang dibela bukan kebenaran, melainkan posisi diri sendiri.
Saya juga tidak mau sok suci.
Saya tahu, saya pun pernah melakukannya—memilih sudut pandang yang paling nyaman, bukan yang paling jujur. Mengencangkan atau mengendurkan standar, tergantung siapa yang sedang diuntungkan.
Di titik ini, saya berhenti bertanya siapa yang tulus. Saya lebih tertarik pada siapa yang konsisten.
Karena orang yang konsisten tidak perlu teriak-teriak membenci atau memuja. Ia cukup berdiri di jarak aman, mengamati, dan tidak buru-buru menjadikan emosi sebagai alat tawar.
Kesimpulannya sederhana, dan agak pahit:
benci dan cinta sering kali hanya dua baju berbeda untuk ego yang sama. Yang berubah cuma motifnya, bukan niat dasarnya.
Saya tidak ingin sibuk membongkar motif orang lain. Itu melelahkan. Yang lebih penting buat saya adalah satu hal kecil: memastikan saya tidak terlalu murah meminjamkan perasaan—baik untuk memukul, maupun untuk memuja.
Karena begitu perasaan jadi alat, biasanya kebenaran sudah lama pamit tanpa pamit.
0 komentar