Playlist Saya Tidak Lulus Ujian Moral Musik Nasional

by - 12:00 AM

Selera musik saya itu tidak punya KTP ideologi.

Hari ini murotal, besok dangdut, lusa bunyi panci dipukul rame-rame yang entah kapan disepakati sebagai musik. Tidak ada komitmen jangka panjang. Tidak ada sumpah setia genre. Ini cuma bunyi. Kalau enak, saya dengar. Kalau menemani sepi, saya biarkan muter.

Saya pikir semua orang begitu. Ternyata saya naif.

Suatu hari saya nyasar ke kanal para music enthusiast. Dahi saya refleks naik. Ternyata musik bukan cuma urusan telinga, tapi juga status sosial. Ada klasifikasi tidak tertulis tapi dipegang mati-matian.

Jazz katanya untuk orang terdidik.
Rock dan metal untuk jiwa-jiwa panas yang katanya “berani”.
Tembang kenangan untuk orang tua yang menolak move on.
Dan entah bagaimana, setiap genre selalu punya kasta.

Saya manggut-manggut. Oh begitu. Noted.
Berarti selama ini saya hidup tanpa silabus budaya.

Masalahnya bukan pada klasifikasi musik itu sendiri. Orang mengelompokkan hal apa pun sejak zaman batu, itu wajar. Yang bikin saya terdiam adalah satu kebiasaan aneh: budaya menyerang selera musik orang lain, dengan bangga.

Ada yang memamerkan playlist seperti pamer ijazah.
“Ini musik saya. Lihat. Berkelas.”
Saya menangguk takzim, sebagaimana orang awam menghormati benda yang tidak ia pahami.

Lalu datang akun bergambar piano. Dengan kalimat pendek tapi tajam: selera musik dia rendah.
Yang diserang tidak terima. Balas dengan screenshot playlist.
Lalu muncul akun lain, namanya absurd, fotonya kartun, ikut nimbrung.

Saya menatap layar, agak lama.
Ternyata musik sudah naik pangkat. Dari bunyi jadi ideologi.
Dan seperti ideologi lain, ia butuh musuh agar terasa hidup.

Di titik itu saya sadar, ini bukan lagi soal nada atau irama. Ini soal legitimasi. Tentang siapa yang berhak merasa lebih tinggi hanya karena telinganya dilatih dengan genre tertentu.

Saya mundur pelan-pelan.
Bukan karena kalah argumen.
Tapi karena saya datang ke pesta yang salah.

Buat saya, musik tetap bunyi. Ia tidak minta dibela. Tidak minta dijadikan identitas. Ia cuma ingin diputar, didengar, lalu selesai. Kadang menemani doa. Kadang menemani nyetir. Kadang menemani sepi yang tidak butuh penjelasan.

Kesimpulan saya sederhana dan mungkin mengecewakan:
kalau selera musik dipakai untuk merendahkan orang lain, mungkin yang sedang dinikmati bukan musiknya—tapi rasa unggulnya.

Saya kembali ke playlist saya yang tidak lulus uji estetika sosial.
Ada murotal, dangdut, dan bunyi panci.
Dan entah kenapa, hidup saya tetap berjalan baik-baik saja.

You May Also Like

0 komentar