Nanas Muda, Tahun Baru, dan Kalender Birahi Nasional
Saya pernah bertanya dengan tulus tapi terdengar seperti bercanda:
Mana jokes pedagang nanas muda pas tahun baru?
Soalnya aneh. Tahun baru itu rame. Kembang api, resolusi, countdown, pelukan, dan—kalau jujur—olah syahwat massal yang dibungkus kata “malam spesial”. Tapi kok jokes nanas muda justru meledak tiap Februari? Seingat saya, tubuh manusia tidak baca kalender. Nafsu juga tidak pakai alarm Valentine.
Lalu saya mikir pelan, sambil senyum miring.
Nanas muda itu bukan sekadar buah. Ia simbol. Ia metafora yang terlalu jujur. Di balik kulitnya yang berduri dan rasanya yang masam, ia menyimpan bisik-bisik panik: “waduh, telat.” Jalur herbal, jalur darurat, jalur keputusasaan yang dibungkus kearifan lokal. Anak muda yang olah syahwatnya kebablasan tanpa pengaman, lalu berharap alam bisa membereskan apa yang logika diabaikan.
Dan di situlah saya sadar, kenapa Valentine lebih ramai.
Tahun baru itu rame-rame. Ada pesta, ada teman, ada keluarga, ada kembang api. Dosa kolektif. Kalau salah, salah bareng. Tapi Valentine? Itu intim. Sepasang. Gelap. Romantis. Ada ekspektasi. Ada tekanan sosial: “masa Valentine cuma nonton?”
Maka olah syahwatnya lebih terencana, lebih personal, dan—ironisnya—lebih rawan panik setelahnya.
Makanya jokes nanas muda subur di Februari.
Bukan karena nanasnya musiman, tapi karena kepanikan pasca-romantis itu musiman.
Saya ketawa, tapi pahit.
Karena di satu sisi, masyarakat kita lucu. Kita lebih nyaman menertawakan akibat daripada membicarakan sebab. Edukasi seks dianggap tabu, tapi nanas muda jadi punchline nasional. Kita pura-pura suci di permukaan, tapi sibuk cari jalan pintas saat realitas datang menampar.
Saya juga mengkritik diri sendiri di sini.
Saya ikut tertawa. Saya ikut mengamati. Saya merasa cerdas karena bisa melihat polanya. Tapi tetap saja, saya berdiri di pinggir, menikmati absurditas tanpa benar-benar ikut membereskan kekacauan. Saya menertawakan kalender birahi nasional, sambil menyeruput teh, aman dari konsekuensi.
Kesimpulannya begini, versi saya yang sok santai tapi tahu diri:
Masalahnya bukan di nanas. Bukan di tahun baru atau Valentine. Masalahnya ada pada budaya yang lebih suka bercanda soal luka, daripada mencegahnya sejak awal. Kita menertawakan buah, tapi menutup mata pada sistem yang bikin anak muda harus mencari buah itu.
Dan saya?
Saya akan tetap tertawa. Karena humor kadang satu-satunya cara waras menghadapi logika yang sudah terlanjur bengkok. Tapi setidaknya sekarang saya tahu:
kalau jokes nanas muda makin ramai, itu bukan sekadar lucu—itu alarm sosial yang dibungkus tawa.
Nanasnya muda.
Masalahnya tua.
0 komentar