Tutorial Cerai Nasional: Dari Selingkuh ke Cuci Aset dalam Tiga Babak

by - 8:00 PM

Saya tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di ruang rapat, di balik pintu pengadilan, atau di dalam rekening-rekening yang tidak pernah saya pegang. Saya cuma tahu satu hal: polanya sering terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Sepasang pejabat tersandung kasus korupsi. Lampu sorot menyala. Media lapar. Lalu, entah kenapa, rumah tangga mereka ikut “retak”. Bukan karena pasal-pasal hukum yang berat, tapi karena dosa yang lebih ringan untuk dikunyah publik: perselingkuhan.

Saya tidak sedang membela siapa pun. Saya juga tidak sedang menuduh secara hukum. Saya cuma mengamati—dan mata saya ini, meski bukan penyidik, cukup terlatih melihat pola yang berulang.

Narasinya hampir selalu sama. Ada air mata. Ada pengakuan personal. Ada keputusan cerai yang katanya demi anak. Dan publik pun berpindah fokus. Dari angka, aset, dan aliran dana, ke drama ranjang yang lebih mudah dicerna sambil makan malam.

Saya kadang merasa ini seperti sulap murahan. Tangan kanan mengibaskan gosip, tangan kiri merapikan sesuatu di belakang. Dan anehnya, kita semua rela menonton yang kanan, bahkan ikut berdebat siapa yang lebih bersalah secara moral.

Padahal sejak kapan perselingkuhan lebih penting daripada uang negara?

Saya tidak anti gosip. Jangan salah. Saya juga manusia. Tapi ada momen di mana gosip terasa terlalu fungsional. Terlalu tepat waktu. Terlalu membantu.

Cerai mendadak ini sering dikemas sebagai tragedi domestik. Padahal di level yang lebih dingin, ia bisa berfungsi sebagai sekat: pengaman aset, pengabur tanggung jawab, atau sekadar pemecah konsentrasi massa. Legal atau tidak, saya tidak tahu. Efektif? Sering kali iya.

Yang bikin saya makin geli adalah bagaimana masyarakat diajak ikut berempati pada drama personal, sementara urusan struktural perlahan tenggelam. Kita sibuk memilih kubu dalam konflik suami-istri, lupa bertanya: uangnya ke mana?

Di titik ini, saya berhenti berharap pada kejujuran narasi. Yang bisa saya lakukan cuma satu: tidak ikut larut terlalu dalam pada cerita yang terlalu sinematik.

Kesimpulan saya sederhana dan mungkin menyebalkan:
di negeri ini, kadang skandal pribadi lebih berguna daripada klarifikasi publik. Bukan karena lebih penting, tapi karena lebih laku.

Dan saya, sebagai penonton yang sudah agak kenyang, memilih satu sikap kecil yang masih bisa saya jaga: menahan diri untuk tidak terlalu cepat teralihkan. Karena setiap kali saya sibuk mengomentari ranjang orang, biasanya ada sesuatu yang sedang diam-diam diselamatkan di luar frame kamera.

Sisanya?
Saya serahkan pada arsip, waktu, dan ingatan kolektif yang—semoga saja—tidak terlalu mudah dialihkan.

You May Also Like

0 komentar