Nasi, Neraka, dan Tulang Ayam yang Terlalu Bersih

by - 3:00 PM

Nasi, Neraka, dan Tulang Ayam yang Terlalu Bersih

Belakangan ini saya baru sadar satu kebiasaan sepele tapi konsisten:
piring saya selalu bersih.

Bukan bersih karena estetika.
Bersih karena takut.

Takut nasi nangis.
Takut mubazir.
Takut mubazir itu temannya setan.
Takut temannya setan itu… ya kita tahu ujung ceritanya ke mana.

Neraka.

Bayangkan, saya bisa masuk neraka bukan karena korupsi, bukan karena zalim,
tapi karena kekenyangan.

Pola asuh ala VOC ini bekerja sangat rapi.
Nasi tidak habis = dosa.
Ayam tidak dikerok sampai ke tulangnya = moral dipertanyakan.
Tulang ayam di piring saya itu bukan sisa makan, tapi artefak ketakutan masa kecil.
Saking bersihnya, kalau ditiup bisa jadi seruling bambu.

Dan rasa takut itu awet.
Sampai dewasa.
Sampai kondangan.

Suatu hari saya ikut hajatan di kampung mertua di Jawa.
Budayanya beda.
Di sana, nasi di piring tidak harus habis.
Dimakan setengah, cukup.
Piring dikembalikan dengan sisa, aman, damai, tidak ada azab turun dari langit-langit tenda.

Awalnya saya kira tamu-tamu lain kekenyangan.
Atau mungkin mereka semua sudah ikhlas masuk neraka.
Saya tidak.

Saya yang dibesarkan dengan trauma nasi nangis memilih jalur aman:
habisin.

Saya makan dengan penuh tanggung jawab moral.
Bukan karena rasanya enak—kadang kurang asin, kadang bumbunya nyekik leher—
tapi karena ini makanan.
Tidak boleh terbuang.
Dan kali ini alasannya bukan lagi neraka, tapi logika:
ya karena makanan aja.

Beberapa tamu melirik.
Tidak komentar.
Tapi ekspresinya seperti melihat orang pakai jas ke sawah.
Tidak salah, tapi… aneh.

Dan puncaknya, dengan polos dan tulus, saya tanya ke bapak mertua:
“Pak, nggak apa-apa ini nasinya saya habisin?”

Saya tanya itu serius.
Karena di kepala saya, ini bisa jadi pelanggaran adat.
Atau minimal, pelanggaran selera sosial.

Beliau jawab santai.
Santai yang menampar lembut pola asuh saya:

“Abisin aja. Masa makan pake izin segala.”

Selesai.

Tidak ada ceramah.
Tidak ada fatwa.
Tidak ada ancaman neraka.

Di situ saya sadar:
selama ini yang ribet bukan nasinya,
tapi kepala saya.

Saya tidak salah menghabiskan makanan.
Saya hanya terlalu lama hidup dengan rasa takut yang diselipkan ke hal-hal sepele.
Takut yang dulu efektif bikin anak patuh,
tapi residunya awet sampai tulang ayam.

Dan sekarang saya bisa tertawa.
Karena lucu juga ya:
hidup ini sudah cukup berat,
tidak perlu ditambah ancaman api abadi hanya karena sebutir nasi.

Kalau hari ini saya masih menghabiskan makanan, itu pilihan.
Bukan kewajiban spiritual.

Dan kalau suatu hari tersisa,
saya yakin neraka tidak segabut itu.

You May Also Like

0 komentar