Pak, Ini Ilmu Falak atau Ilmu Yakin-Yakin Aja?
Saya kadang heran sendiri, kenapa rasa ingin tahu saya itu bandel. Sudah diperingatkan sejak SMP untuk tidak terlalu jauh melangkah, tapi tetap saja muncul lagi, sekarang dengan topik yang lebih jauh: planet, galaksi, jarak antar benda langit, dan badai abadi di bola gas raksasa yang bahkan tidak bisa dipijak.
Pertanyaannya sederhana, sebenarnya.
Sederhana versi saya.
Bagaimana ilmuwan tahu jarak antar planet?
Bagaimana mereka bisa menggambar galaksi—lengkap dengan lengan spiral—padahal kita ada di dalamnya?
Bagaimana bisa sebuah planet isinya cuma gas, tapi punya badai yang katanya tidak pernah berhenti?
Dan, tentu saja, pertanyaan usil yang selalu muncul di belakang kepala:
“Ini beneran dihitung, atau cuma karangan ilmuwan astronomi yang jago bercerita?”
Flashback sebentar ke bangku SMP. Guru IPA menjelaskan tata surya dengan penuh percaya diri. Angka-angka jarak disebutkan dengan nol yang panjangnya bikin saya capek duluan. Saya angkat tangan, lagi.
“Pak, gimana caranya tahu jarak itu sejauh itu?”
Jawabannya familier. Terlalu familier.
“Imani saja. Metodenya tidak keluar di ujian.”
Okey, Pak.
Dan sejak hari itu, saya belajar satu pelajaran penting—bukan tentang astronomi, tapi tentang sistem:
ada pengetahuan yang boleh diketahui,
dan ada pengetahuan yang cukup dipercaya.
Sekarang, ketika saya lebih tua dan sedikit lebih usil, saya menyadari pola yang sama berulang. Bukan cuma di sains, tapi di banyak ruang lain. Kalau sesuatu terlalu rumit untuk dijelaskan dengan napas kelas, solusinya adalah: percaya saja.
Saya tidak anti ilmuwan. Justru sebaliknya.
Saya kagum.
Saya hanya ingin tahu: di titik mana rasa kagum berubah jadi iman buta?
Planet gas dengan badai abadi itu terdengar seperti mitologi modern.
Bedanya, mitologi lama jujur bilang ini cerita.
Mitologi modern datang dengan grafik dan istilah Latin.
Dan saya, di tengah-tengahnya, cuma duduk sambil menggaruk kepala.
Bukan menolak.
Bukan menelan bulat-bulat.
Hanya ingin mengerti—pelan, seadanya.
Mungkin memang tidak semua hal harus saya pahami.
Mungkin otak saya tidak cukup kuat menampung rumus dan teleskop.
Tapi saya tetap ingin bertanya, meski jawabannya sering ditutup dengan kalimat sakti:
“Percaya saja dulu.”
Kesimpulan versi saya, yang sudah berdamai dengan kebingungan:
Saya tidak sedang meragukan semesta.
Saya hanya sedang menguji batas antara ilmu dan iman.
Dan kalau pun saya belum paham jarak antar galaksi, setidaknya sekarang saya tahu satu hal:
rasa ingin tahu itu tidak pernah berhenti—
bahkan ketika badai di planet gas terus mengamuk,
dan guru saya masih berharap pertanyaannya tidak keluar di ujian.
0 komentar