Resolusi Tahunan: Saya Kadaluarsa Lebih Cepat dari Yogurt

by - 9:00 AM

Saya selalu bilang kalimat sakral itu dengan wajah setengah khusyuk,

seperti orang mau sumpah jabatan:

“Tahun depan saya akan jadi lebih baik.”

Tidak ada detail.
Tidak ada indikator.
Tidak ada auditor.

Hanya niat bulat yang saya taruh di udara,
lalu saya tinggalkan begitu saja
seperti sandal masjid yang tak pernah dijemput pemiliknya.

Ajaibnya, niat itu selalu expired di minggu pertama.
Kadang tanggal 3.
Kadang tanggal 5.
Paling lama tanggal 7, itu pun sudah bau-bau pembenaran.

Saya heran,
kok cepat sekali rusaknya?
Padahal belum sempat dipakai.

Mungkin karena niat saya tidak disimpan di kulkas kesadaran,
tapi ditaruh di suhu ruang realitas:
capek, cicilan, notifikasi, dan tubuh yang minta rebahan.

Setiap akhir tahun, saya memperlakukan “menjadi lebih baik”
seperti slogan iklan deterjen:
kelihatan meyakinkan, tidak perlu dibuktikan.

Saya tidak pernah mendefinisikan “lebih baik” itu apa.
Lebih baik siapa?
Versi siapa?
Atau cukup lebih baik dari saya kemarin jam 2 pagi
yang makan gorengan sambil overthinking?

Logika saya patah tapi tetap percaya diri.

Saya bilang mau disiplin,
tapi alarm saya anggap saran, bukan perintah.

Saya bilang mau sehat,
tapi tubuh saya diperlakukan seperti proyek jangka pendek:
dipaksa produktif, jarang dirawat.

Saya bilang mau bijak,
tapi masih debat dengan orang asing di internet
yang fotonya telur.

Yang paling lucu,
saya selalu kaget saat gagal.

Seolah-olah kegagalan ini datang tanpa undangan,
padahal saya sendiri yang tidak menyiapkan kursi
untuk konsistensi.

Saya baru sadar,
kalimat “aku akan menjadi lebih baik tahun ini”
itu bukan rencana.

Itu mantra pengusir rasa bersalah.
Sejenis jimat moral
agar saya bisa masuk tahun baru tanpa membawa dosa lama di tas tangan.

Saya ucapkan,
lalu saya anggap urusan selesai.

Padahal yang terjadi:
saya hanya mengganti kalender, bukan kebiasaan.

Kesimpulan versi saya, tanpa motivasi palsu:

Saya tidak gagal menjadi lebih baik.
Saya gagal jujur tentang siapa diri saya hari ini.

Mungkin saya tidak perlu jadi “lebih baik”.
Mungkin cukup jadi lebih sadar
bahwa saya manusia yang lambat, ceroboh,
dan sering butuh waktu lebih dari tujuh hari
untuk berubah.

Dan tahun ini,
kalau saya masih bilang
“aku akan menjadi lebih baik”
saya akan cek tanggal kadaluarsanya dulu.

Kalau bisa tahan lebih dari seminggu,
itu sudah kemajuan besar.

You May Also Like

0 komentar