Saya Debat dengan Telur, Lalu Bertanya: Siapa Sebenarnya yang Retak?
Saya awalnya cuma mau lihat-lihat.
Serius.
Niatnya netral, seperti orang lewat depan rumah orang ribut lalu melambatkan motor.
Satu konten kontradiktif.
Komentar ribuan.
Saya masuk bukan untuk berpendapat,
tapi untuk menyaksikan.
Dan di situlah saya melihat peradaban runtuh dengan sangat rajin.
Akun bergambar telur mulai bicara tentang moral.
Dengan nada luhur.
Penuh keyakinan.
Sambil melempar umpatan yang melibatkan silsilah keluarga dan alat reproduksi orang lain.
Lalu disahut akun bergambar kucing burik.
Bahasannya melebar ke ideologi,
meloncat ke konspirasi,
lalu nyemplung ke kata-kata yang tidak pernah diajarkan di sekolah.
Saya tertawa.
Bukan karena lucu saja,
tapi karena ini nyata.
Telur memaki cacing pita.
Cacing pita merasa lebih bermoral dari kecoa.
Kecoa merasa tercerahkan dan memanggil telur “bodoh”.
Saya bertanya dalam hati:
ini mereka sedang ributin apa, ya?
Topiknya entah sudah mati di komentar ke-17.
Yang tersisa hanya ego liar berlarian tanpa celana.
Dan di titik tertentu,
saya sadar sesuatu yang mengganggu:
saya ikut ketawa… dan ikut tinggal.
Saya tidak ikut memaki,
tapi saya menikmati kekacauan.
Saya seperti penonton sirkus mental,
sambil diam-diam duduk terlalu dekat ke arena.
Saya mulai membalas,
bukan dengan marah,
tapi dengan candaan.
Dan itu jebakannya.
Karena saat saya mengetik balasan,
saya sudah masuk ekosistemnya.
Saya tidak lagi di luar.
Saya di dalam lumpur yang sama,
hanya merasa sepatu saya lebih bersih.
Saya melihat pola mereka mendekati ODGJ.
Cara berpikir lompat-lompat.
Emosi mendahului logika.
Kalimat panjang tanpa makna.
Lalu saya terdiam.
Saya juga ikut lompat.
Mungkin dengan irama yang lebih rapi,
mungkin dengan tawa,
tapi tetap lompat di kolam yang sama.
Bedanya,
mereka berteriak,
saya terkekeh.
Dan tiba-tiba kritik ini memantul ke wajah saya sendiri:
apa bedanya saya dengan mereka,
selain ilusi bahwa saya “sadar”?
Kesimpulan versi saya, pahit tapi lucu:
Internet itu bukan arena debat.
Itu kandang bebas ego.
Dan saya,
yang mengaku bijak,
ternyata masih cukup iseng
untuk berdiri di pagar kandang,
menertawakan yang di dalam
sambil satu kaki sudah ikut masuk.
Lain kali kalau saya melihat akun bergambar telur
sedang berdebat dengan kecoa
soal kebenaran hidup,
saya harap saya ingat satu hal sederhana:
kalau semua yang terlibat terlihat gila,
mungkin saya sedang berada di tempat yang salah—
atau terlalu lama menonton.
Dan ya,
saya masih bisa tertawa.
Tapi sekarang sambil mundur pelan-pelan.
0 komentar