Saya Ketawa Karena Capek, Bukan Karena Lucu
Saya sering bertanya ke diri sendiri,
kenapa belakangan ini saya gampang sekali tertawa melihat meme politik.
Pejabat korup?
Haha.
Kebijakan aneh, muter-muter, menyakiti akal sehat?
Haha lagi.
Negara seperti eksperimen gagal tapi dijalankan dengan penuh percaya diri?
Saya kirim ke grup WhatsApp, kasih caption receh, lalu tidur.
Lucu, ya?
Padahal sebenarnya tidak lucu sama sekali.
Saya sadar, tawa saya bukan tawa bahagia.
Itu tawa orang lelah.
Tawa orang yang sudah kehabisan energi untuk marah dengan benar.
Dulu saya pikir humor satir itu bentuk perlawanan.
Sekarang saya curiga: jangan-jangan itu obat bius kolektif.
Kami menertawakan sesuatu yang seharusnya bikin kami berdiri, bukan duduk sambil ngakak.
Kami bikin meme dari penderitaan sistemik.
Kami beri punchline pada kebijakan bodoh,
seolah-olah kebodohan itu hiburan malam minggu.
Saya ikut di dalamnya.
Saya tidak suci.
Saya juga ketawa.
Ketika sistem pemerintahan terasa jauh, mahal, dan tuli,
humor jadi bahasa paling murah yang masih bisa saya bayar.
Satu gambar.
Satu kalimat sarkas.
Selesai.
Tidak mengubah apa-apa,
tapi setidaknya batin saya bisa bernapas sebentar.
Yang pahit adalah kesadaran ini:
saya tertawa bukan karena saya tidak peduli,
tapi karena saya terlalu peduli sampai capek.
Capek melihat pola yang itu-itu lagi.
Capek melihat wajah berbeda dengan mentalitas serupa.
Capek berharap, lalu disuruh sabar lagi, dewasa lagi, mengerti lagi.
Humor satir akhirnya jadi ruang aman palsu.
Di sana saya bisa marah tanpa terlihat marah.
Kritik tanpa konsekuensi.
Protes tanpa risiko.
Saya tidak perlu turun ke jalan,
cukup scroll, ketawa, lalu bilang:
“Negeri ini emang ngaco.”
Dan itu masalahnya.
Karena sambil tertawa, saya pelan-pelan menormalisasi kegilaan.
Yang harusnya bikin darah naik,
jadi sekadar bahan konten.
Yang harusnya bikin malu penguasa,
malah jadi hiburan rakyat.
Saya tidak bilang humor itu salah.
Saya cuma mengakui:
humor ini lahir dari kelelahan batin kolektif.
Ini bukan tawa kemenangan.
Ini tawa orang yang duduk di ruang tunggu demokrasi,
nomor antrian tidak bergerak,
dan petugas loket pura-pura tidak melihat.
Kesimpulan versi saya, tanpa heroisme:
selama tawa saya masih pahit,
berarti ada sesuatu yang belum selesai.
Meme mungkin menyelamatkan kewarasan saya hari ini,
tapi tidak akan memperbaiki sistem besok.
Dan mungkin, suatu hari,
saya perlu berhenti tertawa sebentar
untuk bertanya dengan jujur:
ini lucu…
atau saya cuma terlalu lelah untuk marah?
0 komentar