Saya Cuma Mau Kagum, Tapi Helm Gratisan Tidak Mengizinkan
Saya sedang scroll.
Santai.
Tanpa niat menemukan pencerahan, apalagi kebenaran hakiki.
Lalu muncul satu video.
Seseorang memiringkan tubuhnya 45 derajat ke belakang.
Tanpa penyangga.
Tanpa tali.
Tanpa wajah menderita.
Secara logika fisika, ini tidak masuk.
Secara mata, ini indah.
Secara batin, saya spontan bilang:
“Wah, hebat ya. Kreatif. Saya nggak kepikiran caranya.”
Titik.
Selesai.
Saya tidak merasa tertipu.
Tidak merasa ditipu gravitasi.
Tidak merasa perlu mengirim Einstein dari alam baka.
Saya cuma kagum.
Lalu datanglah…
akun bergambar helm gratisan.
Dengan penuh tanggung jawab moral semesta,
ia menulis:
“Ini green screen. Kita dibohongi.”
Saya menarik dahi.
Bukan karena argumennya jenius,
tapi karena kenapa sih harus begitu?
Komentar saya masih menggantung di kepala, belum jadi diketik:
“Plis deh helm gratisan, bisa nggak sih nikmatin pertunjukan tanpa autopsi?”
Orang itu tidak menjual agama.
Tidak menjual investasi bodong.
Tidak mengklaim dirinya dewa anti-gravitasi.
Dia cuma… menghibur.
Tapi ya begitulah.
Media sosial adalah arena di mana
setiap kagum harus segera diuji,
setiap keindahan wajib dicurigai.
Belum selesai helm gratisan,
datang akun lain.
Profilnya absurd.
Bahasanya lebih absurd lagi.
Over-puji yang rasanya tidak tulus,
lebih seperti logika yang kepeleset.
Yang satu membongkar,
yang lain menjilat,
yang lain ribut sendiri.
Dan saya berdiri di tengah,
bingung,
kenapa satu aksi kreatif kecil
harus diadili rame-rame.
Di situ saya sadar,
masalahnya bukan green screen atau bukan.
Masalahnya adalah ketidakmampuan kolektif untuk berhenti menganalisa.
Seolah-olah menikmati tanpa membongkar itu dosa.
Seolah kagum harus selalu dibarengi kecurigaan.
Seolah kalau tidak menemukan celah,
kita kalah pintar.
Padahal…
saya cuma mau bilang:
“Bagus.”
Kesimpulan versi saya, sederhana tapi nyeletuk:
Mungkin kita sudah terlalu lama hidup di dunia
yang lebih sibuk membuktikan orang lain salah
daripada memberi ruang untuk orang lain bermain.
Dan mungkin,
menikmati kreativitas tanpa nyari celah
sekarang terasa berat
karena kita terlanjur mengira
setiap hal harus dipatahkan logikanya
agar kita merasa unggul.
Lain kali,
kalau saya melihat tubuh miring melawan gravitasi,
saya ingin tetap di posisi ini:
bukan jadi ahli fisika dadakan,
bukan jadi pembongkar ilusi,
tapi jadi manusia biasa
yang bisa bilang:
“Keren.”
Lalu scroll.
0 komentar