Selingkuhan yang Jujur, Negara yang Tuli, dan Saya yang Garuk Kepala

by - 6:00 PM

Saya sebenarnya tidak suka topik beginian. Terlalu banyak moral dipakai seperti sendal jepit: dilempar ke siapa saja yang lewat. Tapi kasus ini lewat di depan mata sambil nyengir, dan kepala saya refleks bertanya, “Loh, kok begini?”

Seorang mantan pejabat—laki-laki, tentu saja—hidup dengan pola klasik: istri sah di rumah, selingkuhan berlapis di luar. Sampai di titik ini, tidak ada yang istimewa. Ini sinetron jam tayang utama, hanya beda channel: satu di televisi, satu di berita.

Yang membuat saya mengernyit bukan dramanya, tapi reaksi penontonnya.

Istri sah menggugat cerai. Publik mengangguk. Wajar.
Lalu muncullah selingkuhan pertama. Ia membuka suara. Alasannya banal dan jujur dalam versi paling telanjang: uangnya macet. Tidak lagi disuplai. Dan—ini bagian penting—ia berada dalam radar otoritas negara.

Selingkuhan kedua?
Tenang. Damai. Aliran dana lancar. Hidup baik-baik saja. Tidak masuk radar. Tidak berisik. Tidak membuka apa-apa.

Dan yang membuat kepala saya agak miring:
mayoritas netizen—terutama sesama perempuan—malah terlihat lebih respek pada selingkuhan pertama.

Saya berhenti di sini. Mengernyit.
Sebentar.
Bukankah ini terdengar seperti sedang memberi tepuk tangan pada orang yang tetap berada di posisi salah?

Tapi saya tarik napas. Saya coba tidak sok suci. Saya ajak diri saya sendiri duduk.

Mungkin yang sedang dirayakan bukan statusnya sebagai selingkuhan.
Mungkin yang dirayakan adalah perannya sebagai pemantik.

Di negeri ini, keadilan sering kali bukan soal benar atau salah, tapi soal siapa yang berisik duluan. Dan selingkuhan pertama ini—entah karena sakit hati, entah karena kepepet—melakukan satu hal yang jarang dilakukan banyak orang yang sudah nyaman: ia membuka borok.

Ia tidak jadi pahlawan. Tapi ia menjadi kerikil di sepatu sistem.

Sementara selingkuhan kedua?
Ia menikmati hasil. Diam. Rapi. Tidak mengguncang apa pun. Dan publik, dengan logika yang aneh tapi jujur, seolah berkata: “Yang ini lebih licin. Lebih pintar. Lebih menyebalkan.”

Saya mulai paham keganjilan ini.

Netizen tidak sedang membenarkan perselingkuhan. Mereka sedang menyalurkan lelah kolektif pada satu pola yang terlalu sering terjadi:
orang yang menikmati sistem busuk tapi diam terasa lebih menjengkelkan daripada orang yang busuk tapi bikin sistemnya bocor.

Ironis? Iya.
Bersih? Tidak sama sekali.

Ini bukan soal siapa yang bermoral. Ini soal siapa yang mengganggu kenyamanan kebusukan.

Dan di titik ini saya mengkritik diri saya sendiri:
ternyata saya pun hidup di masyarakat yang sering kali lebih menghargai pengkhianat yang berisik daripada penikmat yang rapi. Bukan karena kami suka pengkhianatan, tapi karena kami sudah terlalu capek melihat kejahatan yang berjalan mulus tanpa suara.

Tetap saja, saya tidak bisa bertepuk tangan.
Saya hanya bisa mengangguk sambil berkata pelan ke diri saya sendiri:

“Ini bukan tentang siapa yang benar. Ini tentang siapa yang membuat masalah tidak bisa lagi disapu ke kolong meja.”

Dan mungkin itu sebabnya selingkuhan pertama terlihat “punya teman”.
Bukan karena ia layak dirayakan.
Tapi karena ia, tanpa sengaja, merusak ilusi bahwa semuanya baik-baik saja.

Saya menutup pengamatan ini dengan satu kesimpulan yang agak pahit tapi jujur:

Di negeri yang keadilannya sering lahir dari kebocoran,
orang yang membuka aib—bahkan dari posisi salah—kadang terlihat lebih berguna daripada orang yang benar tapi diam.

Saya tidak suka ini.
Tapi saya mengerti kenapa ini terjadi.

Dan memahami, ternyata, tidak selalu berarti menyetujui.

You May Also Like

0 komentar