Senangnya Hatiku (Katanya)***
Pagi itu saya mengantar anak ke sekolah. Hari pertama masuk semester dua setelah libur panjang. Wajah anak-anak hampir seragam: lesu, setengah sadar, mata masih nyangkut di kasur. Itu wajar. Bahkan saya yang dewasa pun sering ingin berkata, ah nanti dulu lah hidup hari ini.
Yang menarik perhatian saya bukan wajah lesu mereka, tapi lagu sambutan sekolah yang diputar dengan penuh semangat, seolah ingin memompa ulang jiwa-jiwa yang belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata.
“Hari ini hari pertama,
hari pertama ke sekolah,
senangnya hatiku diantar ayah ibu…”
Saya langsung berhenti sebentar. Bukan di kaki, tapi di kepala.
Anak saya netral. Bahkan cenderung bahagia. Diantar ayah dan ibu bersamaan, itu sudah cukup jadi modal emosi untuk satu hari. Lagu itu lewat begitu saja. Tidak menohok, tidak juga menggelitik. Hanya bunyi.
Tapi saya melihat wajah anak-anak lain.
Ada yang mendadak muram. Bukan karena sekolah, tapi karena kalimat diantar ayah ibu itu terlalu spesifik. Terlalu ideal. Terlalu… bukan hidupnya.
Mungkin dia datang naik ojol. Abangnya bau rokok, kaosnya belum kering, helmnya lengket entah oleh apa. Atau mungkin orang tuanya sudah berangkat kerja sejak subuh. Atau memang tidak ada yang mengantar sejak lama, dan itu juga baik-baik saja, sampai lagu ini diputar.
Ada juga anak yang masa bodoh total. Lagu itu lewat seperti angin. Yang penting jam pulang, lalu sore main bola. Hidupnya sederhana, tidak butuh narasi manis.
Di situ saya sadar, lagu yang terdengar netral bisa jadi tidak netral sama sekali. Ia membawa asumsi. Ia menyamar sebagai keceriaan universal, padahal realitas anak-anak berlapis-lapis, dan tidak semuanya cocok dengan lirik yang sama.
Saya jadi teringat, sejak kecil saya memang punya kebiasaan ini: melihat lapisan bawah dari sesuatu yang terlihat biasa. Bukan untuk mencari salah, bukan juga untuk menghakimi. Lebih ke refleks: oh, ternyata begini ya rasanya di sisi lain.
Lagu itu tidak salah. Sekolah juga tidak jahat. Tapi mungkin kita sering lupa, tidak semua kebahagiaan perlu diseragamkan. Tidak semua anak perlu diingatkan pada versi ideal yang kebetulan tidak mereka miliki pagi itu.
Lucunya, anak-anak mungkin tidak akan mengingat lagu itu besok. Tapi tubuh mereka merekam rasa kecil yang tak sempat diberi nama. Sedikit ganjil. Sedikit asing. Lalu berlalu.
Saya tidak marah. Tidak juga ingin protes. Ini hanya letupan kecil di kepala saya, yang kemudian saya endapkan.
Kadang yang perlu kita lakukan bukan mengganti lagu, tapi menyadari bahwa satu lirik bisa jatuh berbeda di tiap dada. Dan itu tidak apa-apa.
Hari pertama sekolah memang tidak selalu “senangnya hatiku”.
Dan hidup, untungnya, tidak pernah sesederhana lagu sambutan.
Saya tersenyum, menggenggam tangan anak saya, lalu pulang.
Biarlah pagi itu berlalu, seperti biasa—
dengan sedikit lebih sadar.
0 komentar